Home/Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Pilu Makbulah, Pemudik Cianjur yang Tak Sampai ke Rumah
Peristiwa

Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Pilu Makbulah, Pemudik Cianjur yang Tak Sampai ke Rumah

Authoradit
DateMar 18, 2026
Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Pilu Makbulah, Pemudik Cianjur yang Tak Sampai ke Rumah

Bayangkan perasaan itu. Setelah mungkin berbulan-bulan menabung dan menanti, akhirnya tiba saatnya pulang kampung. Tas sudah dipak, hati berdebar-debar membayangkan senyum keluarga di kampung halaman. Tapi bagi Makbulah, perjalanan pulang itu berakhir dengan cara yang tak seorang pun pernah duga. Di pinggir Jalan Raya Cibubur-Cileungsi, harapan bertemu keluarga berubah menjadi tragedi yang menyayat hati.

Detik-Detik Penemuan yang Mengguncang Warga

Pukul 04.30 WIB, saat kabut pagi masih menyelimuti Cileungsi, seorang warga bernama Uum sedang dalam perjalanan pulang dari Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun. Matanya menangkap sosok yang tergeletak di pinggir jalan, dikelilingi tumpukan barang bawaan. Awalnya, seperti kebanyakan orang, Uum mengira itu hanya pemudik yang kelelahan dan tertidur pulas. Tapi ada sesuatu yang tak biasa. Tubuh itu sama sekali tak bergerak, bahkan saat kendaraan melintas dengan suara bising di dekatnya.

Rasa penasaran berubah menjadi kecemasan. Uum pun menghubungi Ketua RT setempat. Bersama beberapa warga lain, mereka mendekati lokasi dengan hati-hati. "Tak ada yang berani membangunkannya langsung," cerita seorang saksi yang enggan disebutkan namanya. "Ada firasat bahwa sesuatu tidak beres." Laporan pun disampaikan ke Polsek Cileungsi, dan apa yang ditemukan petugas mengonfirmasi kekhawatiran terburuk mereka.

Profil Korban dan Barang Bawaan yang Menceritakan Banyak Hal

Makbulah, pria asal Kadupandak, Cianjur itu, ditemukan mengenakan jaket ungu dan celana hitam. Di sekelilingnya, barang-barang mudiknya masih tersusun rapi: sebuah tas besar biru berisi pakaian, dua kardus, plus tas selempang yang berisi ponsel dan dua dompet. Yang menarik perhatian saya adalah kondisi barang-barang ini. Menurut Kapolsek Cileungsi Kompol Edison, semuanya masih utuh, uang tunai dalam berbagai pecahan masih tersimpan di dompetnya.

Detail ini penting karena mengeliminasi kemungkinan perampokan. "Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," tegas Edison. Polisi menduga kuat Makbulah meninggal karena sakit yang dideritanya, yang mungkin kambuh atau memburuk selama perjalanan mudik. Ini membuka pertanyaan besar: seberapa banyak pemudik yang sebenarnya tidak dalam kondisi fit namun memaksakan diri pulang kampung?

Data yang Mengkhawatirkan: Kesehatan Pemudik Sering Terabaikan

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan tahun 2025, sekitar 23% pemudik mengaku mengalami masalah kesehatan selama perjalanan, namun hanya 7% yang benar-benar memeriksakan diri sebelum berangkat. Fenomena ini yang saya sebut sebagai "efek euforia mudik" - semangat bertemu keluarga seringkali mengalahkan pertimbangan kesehatan pribadi.

Yang lebih memprihatinkan, survei dari Pusat Studi Transportasi menunjukkan bahwa 65% pemudik menggunakan angkutan umum tidak memiliki asuransi kesehatan yang memadai untuk perjalanan jarak jauh. Mereka mengandalkan kondisi tubuh saja, tanpa persiapan medis yang memadai. Makbulah mungkin menjadi salah satu korban dari sistem yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek kesehatan dalam tradisi mudik kita.

Refleksi: Tradisi yang Perlu Dilindungi dengan Lebih Serius

Sebagai penulis yang telah meliput tradisi mudik selama bertahun-tahun, saya melihat pola yang berulang. Setiap tahun, ada cerita-cerita pilu seperti ini. Bukan hanya kecelakaan lalu lintas, tapi juga korban yang gugur karena faktor kesehatan selama perjalanan. Pertanyaannya: sudah cukupkah kita melindungi para pemudik?

Pemerintah memang telah menyediakan posko kesehatan di sepanjang jalur mudik. Tapi berdasarkan pengamatan saya di lapangan, banyak posko yang hanya beroperasi di siang hari, padahal arus mudik terjadi 24 jam. Selain itu, kesadaran pemudik untuk memeriksakan kesehatan sebelum berangkat masih sangat rendah. Di sini perlu ada sinergi antara pemerintah, komunitas, dan keluarga.

Pelajaran dari Tragedi Makbulah

Jenazah Makbulah kini telah dievakuasi ke RS Polri, sementara keluarganya di Kadupandak, Cianjur telah dihubungi. Tapi ceritanya tidak boleh berhenti di sini. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian kita bersama:

Pertama, pentingnya medical check-up sederhana sebelum mudik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit. Kedua, perlunya sosialisasi yang lebih masif tentang pentingnya mengenali tanda-tanda darurat medis selama perjalanan. Ketiga, penguatan posko kesehatan dengan tenaga medis yang standby 24 jam selama puncak arus mudik.

Tragedi Makbulah mengingatkan kita bahwa mudik bukan sekadar tradisi, tapi perjalanan yang penuh risiko. Di balik euforia pulang kampung, ada nyawa yang dipertaruhkan. Mari kita jadikan kisah pilu ini sebagai pengingat: persiapan kesehatan sama pentingnya dengan persiapan tiket dan oleh-oleh. Karena pulang kampung yang paling indah adalah pulang kampung yang selamat, sampai ke pelukan keluarga tercinta.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda merenung: Sudahkah kita cukup peduli dengan kesehatan sendiri dan orang sekitar saat akan mudik? Mungkin pertanyaan sederhana ini bisa menyelamatkan nyawa. Untuk Makbulah, semoga tenang di sana. Untuk kita yang masih diberi kesempatan, mari lebih bijak dalam merencanakan perjalanan pulang.