Kuliner

Setelah Liburan Usai, Kenapa Justru Soto dan Bakso yang Kembali Diburu?

Di awal 2026, tren menarik justru terjadi: kuliner tradisional kembali jadi primadona. Ini bukan sekadar soal harga, tapi ada cerita yang lebih dalam di balik sepiring soto dan semangkuk bakso yang tetap ramai pengunjung.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Setelah Liburan Usai, Kenapa Justru Soto dan Bakso yang Kembali Diburu?

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah liburan panjang usai dan kita kembali ke rutinitas, ada satu jenis makanan yang seolah menjadi magnet alami? Bukan kafe kekinian dengan menu fusion, bukan pula restoran fine dining. Justru, warung-warung sederhana yang menjual soto, bakso, atau jajanan pasar tradisional lah yang kembali ramai diserbu. Di awal Januari 2026 ini, fenomena itu terasa sangat nyata. Seolah ada kebutuhan kolektif untuk kembali ke sesuatu yang familiar, hangat, dan mengingatkan kita pada rasa 'rumah' setelah gegap gempita perayaan.

Faktanya, berdasarkan pantauan informal di beberapa titik kuliner, peningkatan kunjungan ke pedagang makanan tradisional bisa mencapai 30-40% di minggu pertama setelah tahun baru. Banyak yang bercerita, setelah mencoba berbagai hidangan baru selama liburan, lidah justru rindu pada cita rasa yang sudah dikenal sejak kecil. "Seperti reset button," ujar salah seorang pengunjung warung soto di bilangan Jakarta. "Setelah makan banyak hal selama liburan, kembali ke soto ayam kampung itu seperti mengembalikan semuanya ke porosnya."

Pelaku usaha pun merasakan gelombang optimisme ini. Bukan hanya mengandalkan rasa yang sudah teruji waktu, mereka kini juga semakin cerdas beradaptasi. Menjaga kebersihan dan konsistensi rasa tetap jadi prioritas utama, tapi kini dibarengi dengan pemanfaatan layanan pesan-antar digital untuk menjangkau pelanggan yang mungkin sedang malas keluar rumah. Beberapa pedagang bakso bahkan mulai membuat konten singkat tentang proses pembuatan baksonya yang masih manual, yang justru menjadi daya tarik tersendiri di era serba instan. Menurut saya, ini adalah bentuk resilience yang menarik dari bisnis kuliner akar rumput. Di tengah ketidakpastian ekonomi, mereka justru menemukan celah dengan menjadi solusi yang terjangkau, mudah diakses, dan penuh nostalgia.

Pada akhirnya, ramainya kuliner tradisional di awal tahun mungkin adalah cermin dari kebutuhan psikologis kita. Di tengus transisi dari masa liburan yang riang ke rutinitas yang padat, makanan bukan lagi sekadar pengisi perut. Ia menjadi jangkar emosional, pengingat akan stabilitas, dan penghubung dengan memori-memori sederhana yang membahagiakan. Jadi, lain kali Anda melihat antrian panjang di warung soto langganan, coba tanyakan pada diri sendiri: apakah yang sebenarnya kita cari? Mungkin jawabannya lebih dari sekadar kuah kaldu yang gurih, tapi juga sebentuk kenyamanan yang tak tergantikan. Mari kita terus dukung pelaku usaha kuliner tradisional ini, karena di setiap suapan yang mereka hidangkan, tersimpan cerita dan ketahanan budaya kita.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:55
Diperbarui: 21 Januari 2026, 19:03