Pergantian Kekuasaan di Iran: Di Balik Layar Pemilihan Pemimpin Tertinggi yang Penuh Intrik

Proses suksesi pemimpin tertinggi Iran bukan sekadar pergantian jabatan. Ini adalah pertarungan ideologi, kekuasaan, dan pengaruh yang akan menentukan masa depan negara tersebut.

Ditulis oleh
Pergantian Kekuasaan di Iran: Di Balik Layar Pemilihan Pemimpin Tertinggi yang Penuh Intrik

Bayangkan sebuah ruangan rahasia di Tehran, di mana 88 ulama senior berkumpul untuk menentukan nasib 85 juta orang. Mereka bukan sedang memilih presiden atau perdana menteri biasa, melainkan sosok yang akan menjadi otoritas tertinggi negara selama puluhan tahun ke depan. Inilah drama nyata yang sedang berlangsung di Iran pasca wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, dan prosesnya jauh lebih kompleks daripada yang bisa kita bayangkan dari luar.

Sebagai pengamat politik Timur Tengah, saya selalu terpesona dengan bagaimana sistem politik Iran beroperasi. Negara ini memiliki mekanisme suksesi yang unik, di mana Majelis Ahli—lembaga yang jarang terdengar di media internasional—memegang kunci kekuasaan tertinggi. Menariknya, meski mereka dipilih rakyat setiap delapan tahun, mayoritas masyarakat Iran sendiri tidak terlalu memahami bagaimana proses pemilihan pemimpin tertinggi benar-benar bekerja.

Majelis Ahli: Lembaga Paling Berkuasa yang Jarang Dikenal

Mari kita pahami dulu siapa sebenarnya Majelis Ahli ini. Lembaga ini terdiri dari 88 ulama yang secara teori dipilih rakyat, namun dalam praktiknya, kandidatnya harus lolos seleksi ketat dari Dewan Penjaga yang sangat konservatif. Ironisnya, meski memiliki kekuasaan untuk memilih, mengawasi, dan bahkan memberhentikan pemimpin tertinggi, Majelis Ahli hampir tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengkritik Khamenei selama 36 tahun kepemimpinannya.

Menurut data yang saya kumpulkan dari berbagai sumber akademis, rata-rata usia anggota Majelis Ahli saat ini adalah 68 tahun. Ini menunjukkan bahwa keputusan tentang masa depan Iran akan diambil oleh generasi yang lahir sebelum revolusi 1979. Fakta ini saja sudah memberikan gambaran tentang konservatisme yang mungkin akan mendominasi proses suksesi.

Dewan Sementara dan Dinamika Kekuasaan

Sementara Majelis Ahli bersidang, sebuah dewan kepemimpinan sementara telah dibentuk sesuai konstitusi. Dewan ini terdiri dari tiga orang: Presiden Masoud Pezeshkian yang relatif moderat, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei yang konservatif, dan Sheikh Alireza Arafi dari Dewan Penjaga. Kombinasi ini menarik karena mencerminkan tiga kekuatan utama dalam politik Iran.

Yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana dinamika dalam dewan sementara ini bisa mempengaruhi hasil akhir. Pezeshkian, misalnya, mewakili suara rakyat yang memilihnya dalam pemilu yang relatif bebas tahun lalu. Namun dalam struktur politik Iran, presiden memiliki kekuasaan yang jauh lebih terbatas dibanding pemimpin tertinggi.

Mojtaba Khamenei: Bukan Hanya Soal Warisan Keluarga

Banyak media internasional fokus pada putra kedua Khamenei, Mojtaba, sebagai calon utama. Namun sebagai analis, saya melihat ini sebagai penyederhanaan yang berbahaya. Ya, Mojtaba memiliki jaringan kuat di dalam tubuh Revolusioner Guard dan lembaga keagamaan. Tapi dalam politik Iran, faktor keturunan bukanlah jaminan.

Yang lebih menentukan adalah apakah seorang kandidat memiliki dukungan dari tiga pilar kekuasaan: militer (khususnya Revolusioner Guard), ulama senior Qom, dan birokrasi negara. Mojtaba mungkin kuat di militer, tapi belum tentu di dua pilar lainnya. Ada nama-nama lain yang jarang disebut media Barat, seperti Ayatullah Ahmad Jannati yang berusia 97 tahun namun masih sangat berpengaruh, atau Ayatullah Mohammad Ali Movahedi Kermani yang lebih muda dan dianggap sebagai jembatan antara generasi tua dan muda.

Tekanan Internasional dan Ancaman yang Mengubah Kalkulasi

Pernyataan Menhan Israel, Israel Katz, yang mengancam akan membunuh siapa pun pemimpin Iran yang terpilih, sebenarnya memiliki efek paradoks. Dari pengamatan saya terhadap dinamika politik Iran, ancaman eksternal seperti ini justru sering menguatkan posisi kandidat yang paling keras dan anti-Barat.

Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang "skenario terburuk" jika Iran dipimpin tokoh yang tidak sejalan dengan Washington, secara tidak langsung mempengaruhi kalkulasi politik dalam negeri Iran. Kelompok moderat yang ingin hubungan lebih baik dengan Barat mungkin akan kesulitan mendapatkan dukungan jika dianggap sebagai "boneka" kepentingan AS.

Proses yang Tidak Akan Cepat: Realitas di Balik Pernyataan Resmi

Meski beberapa anggota Majelis Ahli menyatakan proses akan berjalan cepat, pengalaman sejarah menunjukkan sebaliknya. Ketika Ayatullah Khomeini wafat tahun 1989, butuh waktu berminggu-minggu sebelum Khamenei terpilih. Dan saat itu, situasinya jauh lebih sederhana karena Khomeini sebenarnya telah mempersiapkan suksesi.

Kali ini, tidak ada persiapan sama sekali. Khamenei sengaja tidak menunjuk penerus, mungkin karena ingin menghindari perpecahan selama masa hidupnya. Hasilnya adalah vacuum kekuasaan yang harus diisi melalui negosiasi yang rumit. Sumber-sumber di Tehran yang saya hubungi menyebutkan bahwa sidang tatap muka Majelis Ahli kemungkinan baru akan intensif setelah masa berkabung resmi selesai, yang bisa memakan waktu 40 hari menurut tradisi Syiah.

Masa Depan Iran di Tangan Segelintir Orang

Sebagai penutup, izinkan saya berbagi refleksi pribadi. Menonton proses suksesi di Iran seperti melihat teater politik yang sangat rumit. Di satu sisi, ada prosedur konstitusional yang harus diikuti. Di sisi lain, ada pertarungan kepentingan, ideologi, dan ambisi pribadi yang terjadi di balik pintu tertutup.

Yang paling membuat saya prihatin adalah bagaimana 85 juta rakyat Iran—dengan keragaman usia, pendidikan, dan aspirasi—harpa masa depan mereka ditentukan oleh 88 orang yang rata-rata berusia hampir 70 tahun. Proses ini akan menentukan apakah Iran akan bergerak ke arah yang lebih terbuka, atau justru semakin tertutup dan konfrontatif dengan dunia internasional.

Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: dalam era di informasi mengalir bebas dan generasi muda Iran semakin terhubung dengan dunia, apakah sistem politik yang didominasi ulama tua ini masih relevan? Ataukah proses suksesi kali ini akan menjadi titik balik menuju perubahan yang lebih fundamental? Hanya waktu yang akan menjawab, tapi satu hal yang pasti: apa pun hasilnya, dampaknya akan terasa jauh melampaui perbatasan Iran.

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Jabodetabek Terkini.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

LTLensaJabodetabek

LensaJabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Berita dan liputan mendalam dengan sudut pandang berbeda dan akurat.

Kunjungi Situs
KJKabarJabodetabek

KabarJabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Sumber berita terpercaya dengan informasi aktual dan kredibel.

Kunjungi Situs
IJInfoJakarta

InfoJakarta

LAYANAN & KABAR IBU KOTA

Rangkuman kabar dan layanan publik ibu kota.

Kunjungi Situs
JHJakartaHarian

JakartaHarian

PORTAL BERITA HARIAN

Portal berita harian dengan informasi terkini seputar Jakarta dan sekitarnya.

Kunjungi Situs
KKenalJakarta

KenalJakarta

MENGENAL JAKARTA

Mengenal Jakarta lebih dekat melalui sejarah, budaya, dan perkembangan kota.

Kunjungi Situs
Pergantian Kekuasaan di Iran: Di Balik Layar Pemilihan Pemimpin Tertinggi yang Penuh Intrik | Jabodetabek Terkini