Perbaikan Jalan Berlubang Cuma Tambal Sulam
Kerusakan yang dibiarkan ini tak lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengendara.
%3Astrip_icc()%2Fkly-media-production%2Fmedias%2F5490753%2Foriginal%2F052724800_1770023372-jalan_tole_iskandar_diperbaiki.jpg&w=1600&q=75)
Ruas jalan strategis yang menghubungkan kawasan Cilodong, Cimanggis, Sukmajaya, dan Tapos menuju pusat Kota Depok maupun ke arah Jakarta melalui Jalan Raya Bogor, membahayakan pengguna jalan. Lubang besar, aspal terkelupas, dan genangan air yang menutup lubang jalan.
Kerusakan yang dibiarkan ini tak lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengendara.
Kerusakan Jalan Tole Iskandar bukan hanya terjadi di satu titik. Di beberapa ruas, lubang jalan tampak saling menyambung, memaksa pengendara bermanuver ekstrem untuk menghindarinya.
Kondisinya makin berbahaya ketika hujan turun. Genangan air menutupi lubang sehingga sulit diperkirakan kedalamannya. Kondisi yang memaksa pengendara bermanuver mendadak, memperlambat laju, atau mengambil risiko melaju di sisi jalan yang sama-sama rusak. Bagi pengendara roda dua, ini lintasan penuh kewaspadaan.
Riky (46), seorang pengendara motor yang setiap hari melintasi Jalan Tole Iskandar, sudah lelah mengeluhkan kondisi jalan. Namun perbaikan yang dilakukan belum menyentuh akar masalah.
"Ini jalan rusak itu bekas galian pipa, pernah ditambal, tapi cuma sebentar. Apalagi musim hujan kaya gini, gampang rusak lagi. Jadi kayak tambal sulam doang,” katanya.
"Mending kalau bahan tambal sulam nya bagus, ini keliatannya cuma ala kadarnya yang penting beres," sambungnya.
Riky melihat, lubang-lubang di Jalan Tole Iskandar seolah berpindah bentuk dan lokasi. Karena tambalan aspal yang cepat rusak dan kembali terkelupas.
Warga sekitar Jalan Tole Iskandar terbiasa mendengar suara kendaraan yang menghantam lubang. Terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Seperti diceritakan Udin (35), warga yang tinggal tak jauh dari Jalan Tole Iskandar. Menurutnya, suara motor atau mobil menghantam lubang kerap terdengar, terutama saat hujan deras.
“Sering dengar suara hantaman motor lewat lubang, tapi ya gitu, orang cuma berhenti sebentar, terus jalan lagi,” kata Udin, warga sekitar.
Kondisi paling berbahaya justru terjadi saat hujan deras atau malam hari, karena minimnya lampu penerangan jalan.
"Kalau hujan itu parah. Kita nggak bisa nebak lubangnya sedalam apa. Malam juga sama, lampu jalan nggak semua nyala,” ujarnya.
Artikel Terkait
PeristiwaRahasia di Balik Tragedi Pabrik Plastik Bekasi: Pelajaran Emas untuk Masa Depan Industri yang Lebih Aman
PeristiwaDari Abu Industri: Menyalakan Kembali Makna Keselamatan di Era Produksi
PeristiwaJendela ke Laut yang Terbuka: Pelajaran Diplomasi dari Kapal Perang Asing di Pelabuhan Kita
PeristiwaMenyikapi Insiden Kebakaran Pabrik: Fondasi Tangguh untuk Industri yang Lebih Aman
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.
https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etikBadan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.
https://www.bps.go.idKementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.
https://www.komdigi.go.idPusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.
https://lipi.go.idCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Jabodetabek Terkini.




