Mengapa WFH Hanya Menyentuh Permukaan Masalah Hemat Energi? Analisis Mendalam dari Perspektif Legislatif

Ratna Juwita Sari soroti keterbatasan WFH sebagai solusi hemat energi. Analisis mendalam mengapa pendekatan sistemik dan transformasi sektor prioritas jauh lebih krusial.

Ditulis oleh
Mengapa WFH Hanya Menyentuh Permukaan Masalah Hemat Energi? Analisis Mendalam dari Perspektif Legislatif

Bayangkan sebuah kota besar di pagi hari. Lalu lintas macet, gedung-gedung pencakar langit menyala terang meski matahari sudah bersinar, dan pabrik-pabrik mulai beroperasi dengan mesin yang haus energi. Lalu, muncul usulan solusi: mari kita kerjakan dari rumah. Seolah-olah dengan memindahkan aktivitas kerja ke rumah-rumah, masalah konsumsi energi yang kompleks ini bisa teratasi dengan mudah. Inilah yang sedang menjadi perdebatan hangat di tengah rencana pemerintah untuk menghemat energi mulai April mendatang. Namun, benarkah solusinya sesederhana itu?

Ratna Juwita Sari, anggota Komisi XII DPR dari Fraksi PKB, dengan tegas menyatakan bahwa work from home (WFH) hanyalah secuil kecil dari puzzle besar tata kelola energi nasional. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan akhir Maret 2026, legislator ini mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak pada solusi yang terlihat instan namun sebenarnya bersifat superfisial. "Pendekatan WFH sebagai solusi tunggal ibarat memberi plester pada luka yang membutuhkan jahitan," kira-kira begitu analogi yang bisa kita ambil dari peringatannya.

Mengapa WFH Bukan Jawaban Utama?

Mari kita bedah lebih dalam. Data dari Kementerian ESDM beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang menarik. Konsumsi energi listrik di sektor rumah tangga memang mengalami peningkatan, namun porsi terbesar justru berasal dari sektor industri (sekitar 45-50%) dan komersial (sekitar 30-35%). Sementara itu, transportasi masih menjadi penyumbang utama konsumsi BBM. Artinya, memfokuskan kebijakan hemat energi hanya pada perubahan pola kerja aparatur sipil negara (ASN) melalui WFH, sama seperti berusaha mengeringkan lautan dengan sendok.

Ratna dengan tepat menggarisbawahi bahwa kebijakan yang adil dan terukur harus menyentuh akar persoalan. "Kalau serius, jangan hanya mengubah pola kerja ASN," tegasnya. Gedung-gedung pemerintah yang seringkali boros energi, industri dengan teknologi yang belum efisien, dan sistem transportasi publik yang belum optimal—inilah sasaran strategis yang seharusnya menjadi prioritas. WFH, dalam konteks ini, justru berpotensi menimbulkan masalah baru: perpindahan beban biaya listrik ke rumah tangga, tantangan produktivitas di sektor tertentu, dan bahkan ketimpangan akses bagi mereka yang infrastruktur rumahnya tidak mendukung kerja jarak jauh.

Dampak Sosio-Ekonomi yang Sering Terabaikan

Di balik wacana WFH yang terkesan modern dan fleksibel, tersimpan konsekuensi riil yang perlu dihitung matang. Bagaimana dengan kualitas layanan publik yang membutuhkan interaksi langsung? Bagaimana dengan sektor-sektor ekonomi pendukung perkantoran seperti warung makan, transportasi ojol, dan jasa kebersihan yang bergantung pada aktivitas kantor? Kebijakan yang diambil secara instan, tanpa kajian mendalam tentang dampak berantainya, berisiko memecahkan satu masalah sambil menciptakan masalah baru di tempat lain.

Pengalaman selama pandemi seharusnya menjadi pembelajaran berharga. WFH memang mengurangi mobilitas, tetapi tidak serta-merta membuat konsumsi energi nasional turun signifikan. Malahan, ada studi yang menunjukkan peningkatan konsumsi listrik residensial di siang hari. Ini menunjukkan bahwa pendekatan yang benar-benar holistik harus mempertimbangkan pergeseran pola konsumsi, bukan hanya memindahkan lokasi konsumsi.

Menuju Solusi Sistemik: Lebih dari Sekadar Simbol

Lalu, seperti apa seharusnya langkah konstruktif yang diusulkan? Ratna Juwita memetakan beberapa arah kebijakan yang lebih substantif. Pertama, audit energi nasional yang menyeluruh—sebuah pemetaan akurat tentang di mana saja pemborosan terjadi, dari tingkat gedung pemerintahan hingga proses produksi di pabrik. Kedua, percepatan transisi energi terbarukan yang tidak hanya wacana, tetapi diwujudkan dalam proyek-proyek konkret dengan target yang terukur. Ketiga, revitalisasi transportasi massal yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga nyaman dan efisien, sehingga masyarakat punya alternatif riil selain kendaraan pribadi.

Yang menarik dari pandangan Ratna adalah penekanannya pada keberlanjutan. Hemat energi tidak boleh menjadi program musiman atau reaktif terhadap fluktuasi harga energi global. Ia harus menjadi bagian integral dari transformasi energi nasional—sebuah pergeseran paradigma dari pengelolaan yang reaktif menjadi strategis, dari yang bersifat simbolis menjadi berdampak nyata. "Hemat energi harus berbasis data, berbasis sektor prioritas," tegasnya, menekankan pentingnya pendekatan yang ilmiah dan terukur.

Peran Legislatif dalam Mengawal Transformasi

Sebagai anggota DPR, Ratna menegaskan bahwa fungsi pengawasan akan terus dijalankan untuk memastikan kebijakan penghematan energi tidak terjebak pada solusi jangka pendek yang populis. Ini adalah titik penting: dalam demokrasi, kebijakan publik harus melalui proses penelaahan yang ketat, mempertimbangkan berbagai kepentingan, dan diarahkan untuk kepentingan jangka panjang bangsa. WFH mungkin bisa menjadi salah satu opsi dalam portofolio kebijakan, tetapi sama sekali tidak boleh menjadi bintang utama.

Pertanyaannya sekarang adalah: sudah siapkah kita berpikir di luar kotak? Sudah siapkah kita meninggalkan solusi-solusi instan dan mulai membangun sistem energi yang tangguh, efisien, dan berkeadilan? Wacana WFH untuk hemat energi ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk diskusi yang lebih besar tentang masa depan energi Indonesia—bukan menjadi akhir perdebatan.

Pada akhirnya, hemat energi bukan sekadar tentang mematikan lampu atau bekerja dari rumah. Ini tentang bagaimana sebuah bangsa mengelola sumber dayanya dengan bijak, memastikan keadilan bagi semua sektor, dan membangun ketahanan untuk masa depan. Seperti yang diingatkan Ratna Juwita, mari kita jangan terjebak pada simbol-simbol. Mari kita bangun solusi yang sesungguhnya. Karena bumi yang kita tinggali ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita. Dan cara kita mengelola energi hari ini, akan menentukan kualitas titipan itu besok.

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Jabodetabek Terkini.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

LTLensaJabodetabek

LensaJabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Berita dan liputan mendalam dengan sudut pandang berbeda dan akurat.

Kunjungi Situs
KJKabarJabodetabek

KabarJabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Sumber berita terpercaya dengan informasi aktual dan kredibel.

Kunjungi Situs
IJInfoJakarta

InfoJakarta

LAYANAN & KABAR IBU KOTA

Rangkuman kabar dan layanan publik ibu kota.

Kunjungi Situs
JHJakartaHarian

JakartaHarian

PORTAL BERITA HARIAN

Portal berita harian dengan informasi terkini seputar Jakarta dan sekitarnya.

Kunjungi Situs
KKenalJakarta

KenalJakarta

MENGENAL JAKARTA

Mengenal Jakarta lebih dekat melalui sejarah, budaya, dan perkembangan kota.

Kunjungi Situs
Mengapa WFH Hanya Menyentuh Permukaan Masalah Hemat Energi? Analisis Mendalam dari Perspektif Legislatif | Jabodetabek Terkini