Home/Mengapa Bensin Kita Akan Lebih 'Hijau'? Mengupas Strategi Bioetanol 10% Indonesia
EnergiLingkungan

Mengapa Bensin Kita Akan Lebih 'Hijau'? Mengupas Strategi Bioetanol 10% Indonesia

AuthorAhmad Alif Badawi
DateMar 06, 2026
Mengapa Bensin Kita Akan Lebih 'Hijau'? Mengupas Strategi Bioetanol 10% Indonesia

Mengapa Bensin Kita Akan Lebih 'Hijau'? Mengupas Strategi Bioetanol 10% Indonesia

Bayangkan Anda mengisi bensin di SPBU lima tahun dari sekarang. Pompa yang sama, aroma yang mirip, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam tangki kendaraan Anda. Bensin itu tidak lagi 100% berasal dari fosil. Sebagiannya—tepatnya 10%—adalah hasil fermentasi tanaman yang tumbuh di bumi Indonesia. Itulah visi yang sedang dirajut pemerintah, sebuah transisi energi yang mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya akan kita rasakan bersama.

Langkah menuju Bensin dengan campuran bioetanol 10% (E10) pada 2028 bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah jawaban atas teka-teki energi yang sudah lama menghantui: bagaimana mengurangi ketergantungan pada impor BBM yang menguras devisa, sekaligus memberi napas baru pada sektor pertanian dan mengurangi jejak karbon. Namun, jalan menuju E10 penuh dengan tikungan. Target sebelumnya, 5% pada 2025, harus diakui, belum berhasil dicapai. Keterbatasan pasokan dan infrastruktur menjadi tantangan nyata. Lalu, apa yang membuat kita percaya target 2028 akan berbeda?

Belajar dari 'Target yang Terlewat' dan Peta Jalan yang Diperbarui

Kegagalan mencapai target E5 pada 2025 sebenarnya adalah pelajaran berharga, bukan akhir dari segalanya. Analisis dari beberapa lembaga riset energi menunjukkan, masalah utama terletak pada rantai pasok yang terputus. Produksi bioetanol masih tersebar, skala pabrik relatif kecil, dan logistik distribusinya belum terintegrasi dengan baik dengan kilang minyak nasional. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, tampaknya menyadari hal ini. Alih-alih menyerah, mereka justru merancang peta jalan yang lebih komprehensif.

Target produksi bioetanol kini ditetapkan mencapai sekitar 0,8 juta kiloliter pada 2028. Angka ini mungkin terdengar besar, tetapi mari kita lihat konteksnya. Kebutuhan BBM bensin nasional diproyeksikan mendekati 40 juta kiloliter. Artinya, untuk mencapai campuran 10%, kita membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter bioetanol. Ada kesenjangan yang sangat lebar antara target produksi saat ini dan kebutuhan riil. Ini menunjukkan bahwa komitmen E10 tidak bisa hanya mengandalkan produksi dalam negeri saat ini. Perlu lompatan besar dalam investasi dan teknologi.

Dari Kebun ke Tangki: Memperluas Pilihan Bahan Baku

Selama ini, diskusi bioetanol sering terpaku pada tetes tebu (molasse) dari industri gula. Padahal, potensinya jauh lebih luas. Inilah poin kunci dalam strategi baru ini: diversifikasi bahan baku. Industri kelapa sawit, dengan produksinya yang masif, menyimpan potensi besar. Limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) dan buah sawit afkir bisa diolah menjadi bioetanol generasi kedua. Bahkan, sisa-sisa pertanian seperti jerami padi dan bagasse (ampas tebu) mulai dilirik untuk bioetanol generasi ketiga yang lebih ramah lingkungan karena tidak bersaing dengan pangan.

Opini pribadi saya, fokus pada limbah dan residu pertanian ini adalah langkah yang cerdas. Selain menyelesaikan masalah limbah, pendekatan ini menciptakan ekonomi sirkular. Petani dan pelaku industri tidak hanya menjual produk utama, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dari sesuatu yang sebelumnya dibuang. Ini bisa menjadi pendorong kesejahteraan di daerah. Data dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia menunjukkan, setiap 1 kiloliter bioetanol yang diproduksi dari limbah dapat menciptakan lapangan kerja 2-3 kali lebih banyak dibandingkan produksi dari bahan baku primer.

Infrastruktur dan Kualitas: Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Meningkatkan campuran bioetanol bukan hanya soal mencampur dua cairan. Bioetanol bersifat higroskopis (menyerap air) dan lebih korosif dibandingkan bensin murni. Artinya, seluruh rantai pasok—mulai dari tangki penyimpanan di pabrik, truk tangki, hingga tangki bawah tanah di SPBU—harus diperbarui dengan material yang tahan korosi. Ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Di sisi lain, kualitas bensin dasar (base gasoline) juga harus ditingkatkan. Bensin dengan bilangan oktan rendah, ketika dicampur etanol, bisa mengalami masalah performa pada mesin kendaraan tertentu. Pemerintah dan Pertamina ditantang untuk tidak hanya membangun fasilitas produksi bioetanol baru di sentra-sentra bahan baku, tetapi juga melakukan upgrading di kilang-kilang yang ada. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan secara paralel.

Lebih Dari Sekadar Penghematan: Dampak Lingkungan dan Sosial

Narasi utama seringkali adalah penghematan devisa dari pengurangan impor BBM. Itu penting, tetapi manfaat program E10 sebenarnya lebih dalam. Menurut perhitungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), setiap 1% peningkatan campuran bioetanol dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi sekitar 1-2%. Jadi, E10 berpotensi mengurangi emisi hingga 20% dari baseline bensin murni. Dalam konteks komitmen Indonesia menurunkan emisi, ini adalah kontribusi yang signifikan.

Di tingkat masyarakat, program ini berpotensi mendorong kemandirian energi daerah. Daerah penghasil tebu, sawit, atau sagu bisa mengolah limbahnya menjadi bioetanol, yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi lokal. Ini mengurangi ketergantungan pada distribusi BBM dari pusat dan menciptakan lapangan kerja hijau.

Menutup Refleksi: Antara Optimisme dan Realisme

Jadi, apakah target E10 pada 2028 realistis? Jawabannya kompleks. Di satu sisi, ada political will yang kuat, pembelajaran dari kegagalan sebelumnya, dan peta jalan yang tampaknya lebih matang. Di sisi lain, tantangan teknis, finansial, dan koordinasi antar sektor masih sangat besar. Keberhasilan tidak akan datang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, transisi menuju Bensin yang lebih hijau ini adalah cermin dari pilihan kita sebagai bangsa. Apakah kita akan terus bergantung pada sumber daya fosil yang impor dan mencemari, atau kita berani berinvestasi pada energi terbarukan yang lahir dari bumi sendiri, meski jalannya terjal? Target 2028 adalah kompas, bukan tujuan akhir. Perjalanan menuju energi yang lebih bersih dan mandiri harus dimulai sekarang, dengan langkah-langkah konkret, transparansi, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Bagaimana menurut Anda? Sudah siapkah kita menyambut bensin yang tak hanya membuat mesin berjalan, tetapi juga membawa napas baru bagi perekonomian dan lingkungan Indonesia?