Kolong Manggarai Mencekam Lagi: Saat Gas Air Mata Menjadi 'Solusi' Rutin untuk Tawuran
Suasana Jumat sore di Kolong Manggarai berubah dari hiruk-pikuk lalu lintas menjadi arena lempar batu dan ledakan petasan. Aksi tawuran yang kembali pecah bukan sekadar berita, tapi potret buram dari siklus kekerasan yang seolah tak berujung. Apa yang sebenarnya terjadi di balik konflik yang terus berulang ini?
Bayangkan ini: Hari Jumat sore, cuaca agak mendung. Sebagian orang sedang dalam perjalanan pulang kerja, sebagian lain bersiap untuk akhir pekan. Tiba-tiba, di salah satu titik tersibuk Jakarta Selatan, suara ledakan memekakkan telinga menggantikan deru kendaraan. Bukan petasan perayaan, tapi pertanda dimulainya lagi ritual yang memilukan: tawuran. Kolong Manggarai, yang seharusnya menjadi jalur penghubung, kembali berubah menjadi medan konflik pada 2 Januari lalu. Rasanya seperti deja vu, bukan? Seolah kita menyaksikan film yang sama dengan episode yang berulang.
Menurut informasi di lapangan, puluhan orang terlibat dalam aksi saling lempar batu dan petasan yang membuat suasana sekitar kolong rel Manggarai mendadak mencekam. Warga yang paham 'ritual' ini langsung bereaksi cepat: menutup akses rumah, menjauh dari jendela, dan berusaha menyelamatkan diri dari lemparan benda keras yang bisa datang dari mana saja. Suara teriakan dan ledakan terdengar hingga ke pemukiman sekitar, mengingatkan semua orang bahwa rasa aman adalah barang mewah di kawasan yang seharusnya ramah.
Aparat kepolisian bersama personel Brimob pun diterjunkan ke lokasi. Dalam upaya membubarkan massa yang sulit dikendalikan, petugas terpaksa menggunakan gas air mata. Pilihan yang mungkin efektif untuk meredakan ketegangan saat itu, tapi seolah menjadi pengakuan bahwa kita kehabisan cara yang lebih manusiawi. Setelah upaya pembubaran, situasi perlahan mulai kondusif dan arus lalu lintas kembali normal—seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini, tapi luka di rasa percaya masyarakat terhadap keamanan lingkungan mereka pasti ada.
Data menarik yang patut kita renungkan: Kawasan Manggarai dan sekitarnya tercatat mengalami rata-rata 3-4 insiden tawuran serius per tahun dalam lima tahun terakhir menurut catatan beberapa LSM pemantau konflik sosial. Angka ini mungkin terlihat kecil di atas kertas, tapi dampaknya terhadap psikologi warga dan citra kota sangat besar. Yang lebih mengkhawatirkan, pola konfliknya seringkali berakar pada perselisihan sepele yang kemudian dibesar-besarkan dan diwariskan antargenerasi.
Di tengah semua ini, ada satu pertanyaan yang menggelitik: Apakah kita sudah terjebak dalam siklus 'tawuran - gas air mata - normal sementara - tawuran lagi'? Pendekatan keamanan memang penting, tapi tanpa disertai pendekatan sosial yang menyentuh akar masalah—seperti penyediaan ruang ekspresi bagi pemuda, mediasi konflik berkelanjutan, dan penciptaan lapangan kerja—kita mungkin hanya menunda ledakan, bukan mencegahnya. Polisi sudah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, tapi imbauan saja tak cukup ketika faktor pemicu masih berkeliaran.
Pada akhirnya, setiap kali gas air mata dilepaskan di Kolong Manggarai, itu bukan sekadar tanda bahwa konflik telah diredam. Itu adalah cermin bahwa kita, sebagai masyarakat kota, masih gagal menciptakan ruang dialog yang sehat. Kita terlalu sering memilih kekerasan sebagai bahasa, dan aparat terlalu sering diposisikan sebagai 'pemadam kebakaran' yang datang ketika api sudah membesar. Mungkin sudah waktunya kita bertanya: Daripada terus menyiapkan gas air mata untuk Jumat sore berikutnya, apa yang bisa kita lakukan bersama sejak hari Senin untuk memastikan konflik tidak lagi menjadi pilihan? Karena keamanan yang sejati bukanlah ketika massa berhasil dibubarkan, tapi ketika mereka tidak perlu berkumpul untuk saling melukai sejak awal.