Kisah Pilu di Balik Bentrokan UNM: Ketika Solidaritas Berubah Jadi Kerusuhan

Bayangkan suasana Makassar di bulan Ramadan. Suasana maghrib yang seharusnya diisi dengan azan, hidangan berbuka, dan kebersamaan. Namun, Kamis malam itu (4/3/2026), di sepanjang Jalan AP Pettarani, yang terdengar justru bukan lantunan takbir, melainkan pekikan kemarahan dan suara kaca pecah. Di depan gerbang Universitas Negeri Makassar (UNM), dua kelompok yang seharusnya bisa menjadi sekutu—mahasiswa dan pekerja gig economy—justru saling berhadapan dalam konflik yang memilukan. Ini bukan sekadar berita tentang bentrokan biasa; ini adalah potret bagaimana sebuah kesalahpahaman kecil bisa menyulut api besar di tengah tumpukan ketegangan sosial yang sudah menggunung.
Dari Aksi Damai Menuju Titik Didih
Awalnya, suasana di depan kampus UNM sore itu diwarnai aksi unjuk rasa mahasiswa yang menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka mengangkat kasus tertembaknya Bertrand Eka Prasetyo, seorang remaja 18 tahun, yang diduga melibatkan aparat. Aksi ini adalah bagian dari ekspresi kepedulian generasi muda terhadap isu keadilan. Namun, atmosfer protes yang penuh emosi ini bertabrakan dengan realitas kehidupan urban Makassar yang terus berdenyut. Di waktu yang hampir bersamaan, warga kota, termasuk ratusan pengemudi ojek online, sedang menjalankan rutinitas mereka—ada yang buru-buru pulang untuk berbuka, ada yang mengantar pesanan makanan, menjalankan ibadah tarawih, atau sekadar mencari rezeki di penghujung hari.
Tabrakan kepentingan ini memuncak menjadi insiden yang memicu segalanya: seorang pengemudi ojol yang melintas dilaporkan terlibat perselisihan dengan massa aksi. Informasi yang beredar menyebutkan sepeda motornya mengalami kerusakan. Dalam ekonomi gig di mana kendaraan adalah sumber penghidupan satu-satunya, kerusakan pada motor bukanlah kerugian materi biasa—itu adalah ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Peristiwa inilah yang menjadi pemicu, memantik solidaritas horizontal yang sangat kuat di kalangan komunitas ojol.
Solidaritas yang Berbalik Arah
Ada fenomena sosial menarik yang bisa kita amati di sini. Komunitas pengemudi ojek online, yang sering kita lihat sebagai individu-individu yang terpisah di balik helm dan jaket, ternyata memiliki jaringan solidaritas yang sangat erat dan reaktif. Ketika satu anggota dirugikan, respons kolektif bisa datang dengan cepat dan masif. Dalam hitungan jam, ratusan pengemudi berkumpul dan bergerak menuju kampus UNM. Niat awalnya mungkin mencari kejelasan atau pertanggungjawaban, tetapi dalam situasi yang sudah panas, massa yang terkumpul dengan emosi tinggi mudah sekali berubah menjadi kerumunan yang destruktif.
Di sisi lain, mahasiswa yang sedang dalam kondisi psikologis "mode protes" juga melihat kedatangan massa besar sebagai ancaman terhadap ruang ekspresi mereka. Hasilnya adalah bentrokan fisik yang tidak terelakkan. Batu-batu beterbangan menggantikan argumen, kaca-kaca gedung kampus pecah menjadi simbol kegagalan dialog. Yang lebih memprihatinkan, fasilitas publik yang seharusnya menjadi ruang belajar berubah menjadi medan konflik. Aparat TNI dan Polri yang berada di lokasi akhirnya turun tangan, menjadi penengah paksa di antara dua kelompok yang sama-sama merasa dirugikan.
Membaca Narasi di Balik Kerusakan Fisik
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menyebut insiden ini bermula dari "kesalahpahaman". Namun, kata itu mungkin terlalu sederhana untuk menggambarkan kompleksitas yang terjadi. Data dari Lembaga Studi Konflik Perkotaan mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada 15 insiden serupa di berbagai kota di Indonesia di mana aksi demonstrasi bertabrakan dengan aktivitas warga biasa, yang berujung pada eskalasi kekerasan. Polanya sering sama: komunikasi yang buruk, ketiadaan mediator yang dipercaya kedua belah pihak, dan respons yang digerakkan oleh emosi ketimbang rasionalitas.
Di Makassar khususnya, ada dinamika unik. Sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, jumlah pengemudi ojol meningkat signifikan—menurut Asosiasi Ojek Online Indonesia, ada lebih dari 50,000 pengemudi aktif di Sulawesi Selatan, dengan mayoritas beroperasi di Makassar. Mereka adalah bagian dari denyut nadi ekonomi kota, namun seringkali merasa tidak memiliki saluran aspirasi yang memadai. Sementara mahasiswa, dengan akses ke pendidikan dan wacana kritis, memiliki alat untuk menyuarakan ketidakadilan tetapi terkadang kurang memiliki mekanisme untuk berinteraksi konstruktif dengan kelompok masyarakat lain. Ketika dua dunia ini bertabrakan tanpa bahasa yang sama, ledakan sosial menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan.
Refleksi untuk Kota yang Lebih Tanggap
Melihat pecahnya kaca dan kerusakan di kampus UNM, kita mungkin tergoda untuk hanya menyalahkan salah satu pihak atau mencari-cari kambing hitam. Namun, pendekatan seperti itu justru akan mengubur akar masalah lebih dalam. Polisi telah berjanji akan memproses kasus ini secara hukum—sebuah langkah penting untuk menegaskan bahwa kekerasan bukanlah solusi. Tapi, apakah penegakan hukum saja cukup?
Sebagai masyarakat kota yang hidup dalam ruang yang sama, kita perlu bertanya: bagaimana menciptakan mekanisme sehingga solidaritas kelompok tidak berubah menjadi gerombolan destruktif? Bagaimana membangun jembatan komunikasi antara kampus—sebagai pusat intelektual—dengan para pekerja gig yang menjadi tulang punggung ekonomi urban? Insiden di UNM seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Di era di mana informasi menyebar cepat dan mobilisasi massa bisa terjadi dalam hitungan menit, kita membutuhkan lebih dari sekadar aparat keamanan—kita membutuhkan budaya dialog, empati antar-kelompok, dan pemahaman bahwa ruang kota adalah milik bersama yang harus dijaga bersama.
Malam itu di Makassar, dua kelompok yang sebenarnya sama-sama rentan dalam sistem yang lebih besar justru saling menghancurkan. Mereka lupa bahwa musuh sebenarnya bukanlah satu sama lain. Saat lampu-lampu kota kembali menyala dan puing-puing dibersihkan, semoga yang tersisa bukan hanya luka dan dendam, tetapi pelajaran berharga tentang bagaimana menjadi warga kota yang tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga mampu saling mendengarkan—bahkan di saat-saat paling tegang sekalipun. Bagaimana menurut Anda, langkah apa yang paling krusial untuk mencegah terulangnya tragedi seperti ini di kota kita?











