Kuliner

Kisah Ironi Kuliner Indonesia: Saat Secangkir Kopi Lebih Dimuliakan Daripada Warisan Rasa Nusantara

Mengapa kita lebih bangga menghabiskan ratusan ribu untuk kopi kekinian, tapi enggan melestarikan kuliner tradisional yang justru jadi identitas bangsa?

Penulis:salsa maelani
15 Januari 2026
Kisah Ironi Kuliner Indonesia: Saat Secangkir Kopi Lebih Dimuliakan Daripada Warisan Rasa Nusantara

Bayangkan Anda sedang berjalan di sebuah mal modern. Di satu sisi, ada antrian panjang di depan kafe dengan harga kopi mulai dari Rp 50.000. Wajah-wajah muda dengan senyum puas memegang cup bermerek, siap mengunggahnya ke media sosial. Hanya beberapa langkah dari sana, sebuah stan menjual klepon atau getuk dengan harga tak lebih dari Rp 10.000 per porsi. Stan itu sepi. Hanya sesekali dilewati, lebih sering diabaikan. Ini bukan sekadar imajinasi—ini potret nyata yang terjadi hampir setiap hari di berbagai sudut kota besar Indonesia.

Fenomena ini mengingatkan saya pada percakapan dengan seorang penjual soto di Pasar Santa beberapa bulan lalu. "Anak muda sekarang lebih suka yang kekinian, Mas," ujarnya sambil tersenyum getir. "Soto saya ini resep turun-temurun dari kakek, tapi yang beli kebanyakan orang tua. Kalau anak muda, paling cuma foto-foto doang, lalu beli kopi di sebelah." Ada ironi yang dalam dalam pola konsumsi kita saat ini. Kita begitu mudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang dianggap 'prestisius' secara global, namun seringkali lupa bahwa di balik piring sederhana berisi makanan tradisional, tersimpan cerita, sejarah, dan identitas yang jauh lebih berharga.

Dari Angka ke Realita: Data yang Menggugah Kesadaran

Berdasarkan analisis data dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) yang dirilis Maret 2026, pertumbuhan kafe spesialti di Indonesia mencapai 35% per tahun sejak 2023. Konsumen usia 18-35 tahun menyumbang 78% dari total pengeluaran untuk kopi spesial, dengan rata-rata pengeluaran Rp 300.000-Rp 500.000 per bulan per orang hanya untuk minum kopi di kafe. Angka ini kontras dengan survei terpisah dari Badan Ekonomi Kreatif yang menunjukkan bahwa hanya 22% generasi muda secara aktif mencari dan membeli makanan tradisional sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan sekadar saat acara khusus atau kunjungan ke daerah.

Yang menarik, penelitian dari Universitas Gadjah Mada pada 2025 menemukan bahwa 68% responden mengaku merasa lebih 'keren' dan 'terlihat modern' ketika membawa cup kopi merek ternama dibandingkan ketika membawa makanan tradisional. Persepsi ini tidak muncul begitu saja. Ini adalah hasil dari konstruksi sosial yang dibentuk oleh berbagai faktor—mulai dari bagaimana makanan tradisional dipresentasikan di media, hingga bagaimana industri kopi membangun narasi yang menarik bagi generasi muda.

Bukan Sekadar Masalah Harga, Tapi Nilai yang Diberikan

Banyak yang berargumen bahwa ini masalah harga. Tapi tunggu dulu—apakah benar demikian? Mari kita lihat lebih dalam. Secangkir kopi spesial dengan harga Rp 75.000 tidak hanya menjual biji kopi dan proses penyeduhannya. Ia menjual pengalaman: suasana kafe yang instagramable, pelayanan yang personal, cerita di balik biji kopi (single origin, proses natural, petani tertentu), dan yang paling penting—status sosial. Kopi menjadi simbol bahwa seseorang adalah bagian dari komunitas tertentu, memiliki selera yang 'teredukasi', dan mengikuti tren terkini.

Di sisi lain, makanan tradisional seringkali hanya dijual sebagai komoditas. Getuk adalah getuk. Klepon adalah klepon. Jarang ada narasi yang dibangun tentang asal-usul bahan, proses pembuatan yang masih tradisional, atau cerita budaya di balik makanan tersebut. Padahal, setiap makanan tradisional Indonesia menyimpan narasi yang jauh lebih kaya daripada secangkir kopi dari Ethiopia atau Colombia. Cita rasa rempah-rempah dalam rendang misalnya, adalah cerminan dari sejarah perdagangan rempah Nusantara yang pernah menguasai dunia. Tapi kapan terakhir kali kita mendengar narasi ini disampaikan dengan menarik saat membeli rendang?

Generasi yang Terjepit Antara Globalisasi dan Akar Budaya

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, kita hidup dalam dualitas yang menarik. Di satu sisi, kita terpapar budaya global melalui media sosial dan platform streaming. Kita mengenal matcha dari Jepang, croissant dari Prancis, dan taco dari Meksiko. Di sisi lain, kita juga diingatkan—kadang dengan cara yang memaksa—tentang pentingnya melestarikan budaya lokal. Konflik batin ini seringkali diselesaikan dengan cara yang pragmatis: mengadopsi yang global untuk identitas sosial, dan mengabaikan yang lokal karena dianggap kurang 'bergengsi'.

Opini pribadi saya? Kita sedang melakukan kesalahan besar dalam memaknai 'modernitas'. Menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar. Justru, masyarakat yang benar-benar maju adalah yang mampu menghargai warisannya sambil terbuka terhadap pengaruh global. Lihatlah Jepang—mereka bisa memiliki kedai kopi modern bersanding harmonis dengan warung soba tradisional. Keduanya dihargai setara, karena keduanya menawarkan nilai yang berbeda namun sama-sama penting.

Bagaimana Memutus Siklus Ini? Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah

Banyak artikel menyebutkan bahwa solusinya ada di tangan pemerintah dan pelaku usaha. Saya setuju, tapi tidak sepenuhnya. Pemerintah bisa membuat regulasi, memberikan insentif, dan mempromosikan kuliner tradisional. Pelaku usaha bisa berinovasi dalam penyajian dan pemasaran. Tapi tanpa perubahan persepsi dari konsumen—khususnya generasi muda—semua usaha ini akan seperti menabur garam di laut.

Perubahan harus dimulai dari kita sebagai konsumen. Saat kita memilih untuk membeli makanan tradisional, kita tidak sekadar membeli makanan. Kita ikut menjaga warisan leluhur, mendukung ekonomi lokal, dan yang paling penting—kita mengirimkan pesan bahwa makanan tradisional memiliki nilai yang setara, bahkan lebih, dibandingkan tren kuliner global. Coba bayangkan jika generasi muda mulai membanggakan nasi liwet atau gudeg dengan antusiasme yang sama seperti mereka membanggakan kopi cold brew. Bukankah itu justru akan menciptakan identitas yang lebih kuat dan otentik?

Penutup: Sebuah Refleksi untuk Diri Sendiri dan Kita Semua

Beberapa minggu lalu, saya sengaja mengajak teman-teman ke sebuah warung soto tua di daerah saya. Awalnya ada yang mengeluh karena tempatnya tidak instagramable seperti kafe biasa. Tapi setelah mencicipi soto tersebut, mendengar cerita pemiliknya tentang resep turun-temurun, dan merasakan kehangatan bukan hanya dari kuahnya tapi juga dari interaksi manusia di sana—semua keluhan itu hilang. Salah seorang teman bahkan berkata, "Kok baru sekarang diajak ke sini? Rasanya jauh lebih bermakna daripada sekadar minum kopi di kafe yang itu-itu saja."

Pertanyaan yang ingin saya ajukan bukan lagi "mengapa kita tidak membeli makanan tradisional?", tapi "apakah kita sudah benar-benar memberi kesempatan pada makanan tradisional untuk bercerita?" Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar tren global sampai lupa bahwa keunikan kita justru terletak pada warisan lokal yang kita miliki. Mari mulai dari hal kecil: minggu ini, cobalah jelajahi satu makanan tradisional yang belum pernah Anda coba. Dengarkan ceritanya. Rasakan bukan hanya dengan lidah, tapi dengan kesadaran bahwa Anda sedang menyentuh sepotong sejarah dan identitas bangsa. Karena pada akhirnya, kuliner bukan sekadar urusan perut—ia adalah cerminan dari bagaimana sebuah bangsa menghargai jati dirinya sendiri.

Dipublikasikan: 15 Januari 2026, 03:41
Diperbarui: 15 Januari 2026, 03:41