Ketika Sumatera Tenggelam: Refleksi tentang Hubungan Kita dengan Alam yang Semakin Renggang

Bayangkan Anda bangun di pagi hari, dan dunia di luar jendela bukan lagi jalanan yang biasa Anda lewati, melainkan lautan coklat yang bergolak. Itulah kenyataan pahit yang dialami ribuan warga di berbagai penjuru Sumatera beberapa waktu lalu. Air bukan lagi sumber kehidupan yang mengalir tenang di sungai, melainkan kekuatan destruktif yang menyapu rumah, memutus jalan, dan menghentikan denyut nadi perekonomian. Peristiwa ini, meski sering disebut sebagai 'bencana alam', sebenarnya lebih mirip surat peringatan yang sudah terlalu sering kita abaikan. Alam sedang berbicara dengan bahasa yang keras, dan kita tampaknya masih belum benar-benar mendengarkan.
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung 2025 itu bukanlah kejadian yang tiba-tiba muncul dari ruang hampa. Ia adalah puncak dari gunung es masalah yang sudah lama mengendap. Kita terlalu sering terjebak dalam narasi sederhana: hujan deras, lalu banjir. Padahal, di balik genangan air yang tinggi, tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks tentang bagaimana kita memperlakukan tanah tempat kita berpijak.
Lebih Dari Sekadar Curah Hujan Tinggi: Akar Masalah yang Terlupakan
Memang benar, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali curah hujan ekstrem di wilayah tersebut. Namun, menyalahkan cuaca semata adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Faktor kunci yang sering luput dari perhatian publik adalah degradasi fungsi lahan secara masif. Sebuah studi yang dilakukan oleh konsorsium peneliti dari beberapa universitas di Sumatera pada awal 2024 mengungkapkan fakta mencengangkan: laju alih fungsi lahan hijau, termasuk hutan dan daerah resapan, di koridor tertentu di Sumatera mencapai 2-3% per tahun. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dalam satu dekade, ia berarti kehilangan seperempat dari 'spons raksasa' yang seharusnya menyerap air hujan.
Pikirkan tentang kota-kota besar di pesisir timur Sumatera. Perkebunan monokultur skala besar, permukiman yang berkembang tanpa perencanaan tata ruang yang ketat, dan penyempitan badan sungai akibat sedimentasi dan sampah, telah mengubah topografi dan hidrologi wilayah. Daerah yang dulu berfungsi sebagai buffer (penyangga) kini telah berubah menjadi permukaan kedap air. Ketika hujan datang, air tidak lagi punya waktu dan ruang untuk meresap. Ia langsung meluncur deras ke titik terendah: pemukiman warga. Ini adalah rumus pasti bencana yang sedang kita saksikan.
Dampak Berantai: Ketika Air Henti Mengalir, Ekonomi pun Mandek
Kerugian material akibat banjir selalu menjadi headline berita: ratusan rumah terendam, puluhan jembatan putus, jalan nasional terputus. Namun, dampak yang lebih dalam dan berlarut seringkali kurang mendapat sorotan. Saya pernah berbincang dengan seorang petani karet di Deli Serdang yang lahannya terendam selama seminggu. "Bukan hanya tanaman yang rusak, Bu," katanya dengan suara lirih. "Tapi tanahnya jadi keras dan asam. Butuh bertahun-tahun untuk memulihkannya. Sementara itu, kami harus makan dari apa?"
Inilah realitanya: banjir tidak hanya merusak aset, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian dan meracuni masa depan pertanian. Sektor logistik lumpuh, menyebabkan kelangkaan barang dan inflasi di daerah terdampak. Sekolah-sekolah terpaksa diliburkan, mengganggu proses belajar anak-anak. Wabah penyakit seperti diare dan leptospirosis mengintai di balik genangan air kotor. Banjir menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan kerentanan yang sangat sulit untuk diputus.
Mitigasi atau Adaptasi? Kita Butuh Keduanya, Sekarang Juga
Pemerintah pusat dan daerah tentu telah mengerahkan sumber daya untuk tanggap darurat: mendirikan posko, mendistribusikan bantuan, dan memperbaiki infrastruktur darurat. Aksi ini vital dan patut diapresiasi. Namun, jika respons kita hanya berhenti pada fase reaktif ini, kita hanya akan menjadi pemadam kebakaran yang sibuk memadamkan api demi api, tanpa pernah berusaha mencegah kebakaran berikutnya.
Di sinilah kita perlu berbicara tentang dua pendekatan yang harus berjalan beriringan: mitigasi dan adaptasi. Mitigasi berarti serius menangani akar penyebab. Ini membutuhkan keberanian politik untuk menegakkan hukum lingkungan, menghentikan alih fungsi lahan di daerah resapan dan sempadan sungai, serta merehabilitasi ekosistem yang rusak dengan program penghijauan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar seremonial. Sementara itu, adaptasi berarti mengakui bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem sudah terjadi, dan kita harus membangun ketahanan. Sistem peringatan dini berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat harus diperkuat. Infrastruktur harus dibangun dengan mempertimbangkan risiko bencana, misalnya dengan meninggikan fondasi atau membangun kanal pembuangan yang lebih memadai.
Ada satu data menarik dari World Resources Institute yang patut kita renungkan: investasi US$ 1 dalam mitigasi berbasis alam (seperti restorasi hutan mangrove dan lahan basah) dapat menghasilkan manfaat senilai US$ 4 dalam bentuk pengurangan risiko bencana. Angka ini jelas menunjukkan bahwa merawat alam bukanlah beban biaya, melainkan investasi keselamatan yang paling cerdas.
Opini: Banjir adalah Cermin Hubungan Kita dengan Bumi
Di sini, izinkan saya menyampaikan sebuah opini yang mungkin terdengar filosofis, tetapi sangat konkret implikasinya. Saya percaya banjir-banjir besar seperti di Sumatera ini adalah gejala dari sebuah penyakit hubungan. Kita telah memperlakukan alam—tanah, hutan, sungai—sebagai objek eksploitasi, sebagai sumber daya yang tak terbatas untuk diekstraksi. Kita melihatnya sebagai 'itu', bukan sebagai bagian dari 'kita'. Pola pikir antroposentris (manusia sebagai pusat) inilah yang mendorong keputusan-keputusan perusakan lingkungan untuk keuntungan jangka pendek.
Perubahan iklim memperparah kondisi ini, tetapi ia bukanlah dalang tunggal. Kita adalah aktor utama dalam drama ini. Hujan yang turun adalah fenomena alam, tetapi banjir yang melanda adalah hasil dari pilihan-pilihan kolektif kita: memilih pembangunan yang tidak berkelanjutan, memilih untuk tutup mata terhadap pelanggaran, memilih gaya hidup konsumtif yang meninggalkan jejak ekologis yang besar.
Oleh karena itu, solusi teknis seperti normalisasi sungai atau pompa air raksasa, meski penting, tidak akan pernah cukup. Kita perlu perubahan paradigma. Dari memandang sungai sebagai saluran pembuangan, menjadi memandangnya sebagai arteri kehidupan yang harus dijaga kesehatannya. Dari memandang hutan sebagai lahan tidur yang bisa dikonversi, menjadi memandangnya sebagai penjaga iklim dan penyimpan air.
Penutup: Sebuah Panggilan untuk Keintiman Kembali dengan Alam
Genangan air di Sumatera perlahan-lahan akan surut. Lumpur akan dibersihkan, jalan akan diperbaiki, dan kehidupan akan berusaha kembali normal. Namun, bahaya terbesar adalah jika kita membiarkan memori ini ikut surut bersama air. Jika kita kembali pada 'business as usual' seolah-olah tidak ada yang terjadi. Jika kita menganggap ini hanya sebagai 'musibah tahunan' yang harus ditanggung.
Mari kita jadikan momen pilu ini sebagai titik balik. Bukan dengan rasa panik yang sesaat, tetapi dengan kesadaran yang mendalam dan komitmen yang berkelanjutan. Setiap dari kita, di level apa pun, punya peran. Sebagai warga, kita bisa lebih kritis terhadap kebijakan tata ruang, mengurangi sampah, dan memilih wakil rakyat yang punya visi ekologis. Sebagai pelaku usaha, kita bisa mengadopsi praktik bisnis yang ramah lingkungan. Sebagai komunitas, kita bisa merawat sungai dan ruang hijau di sekitar kita.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan dari banjir tahun depan. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan kita untuk hidup selaras dengan planet ini. Sumatera yang tenggelam adalah gambaran mini dari sebuah dunia yang semakin tidak stabil. Ia mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa terus-menerus mengambil tanpa memberi, mengeksploitasi tanpa memulihkan. Mungkin inilah saatnya kita belajar mendengarkan lagi bisikan angin di antara pepohonan dan gemericik air di sungai yang jernih. Karena ketika kita kehilangan keintiman dengan alam, bencana adalah caranya untuk mengingatkan kita tentang hubungan yang telah kita lupakan. Apakah kita sudah siap untuk mendengarkan dan berubah?











