Infrastructure

Ketika Kota Berubah Jadi Klub Eksklusif: Siapa yang Masih Diundang?

Di balik kemegahan kota modern, ada pertanyaan yang menggelitik: apakah semua orang masih punya tempat di sini? Eksplorasi tentang gentrifikasi dan masa depan ruang urban.

Penulis:Sera
7 Januari 2026
Ketika Kota Berubah Jadi Klub Eksklusif: Siapa yang Masih Diundang?

Ketika Kota Berubah Jadi Klub Eksklusif: Siapa yang Masih Diundang?

Bayangkan ini: Anda tinggal di sebuah kawasan yang sudah puluhan tahun menjadi rumah. Warung kopi langganan di sudut jalan, tukang sayur yang hapal pesanan rutin, tetangga yang saling mengenal sejak anak-anak. Tiba-tiba, gedung-gedung tinggi mulai menjulang, kafe-kafe estetik bermunculan, dan harga sewa melambung tiga kali lipat dalam dua tahun. Anda perlahan merasa seperti tamu di rumah sendiri. Inilah wajah kota modern yang sedang kita hadapi – sebuah transformasi yang indah untuk dilihat, tetapi seringkali pahit untuk dirasakan oleh mereka yang tersingkir.

Kota, dalam imajinasi kolektif kita, selalu digambarkan sebagai tempat di mana mimpi bisa diraih. Tapi ada data menarik dari UN-Habitat: meskipun kota-kota hanya menempati 3% dari daratan bumi, mereka menghasilkan lebih dari 80% PDB global. Ironisnya, mereka juga menjadi rumah bagi 70% kemiskinan dunia. Angka ini seperti tamparan yang mengingatkan kita: di balik kilau pencakar langit, ada realitas yang jauh dari inklusif.

Magnet yang Menarik, Tapi Juga Menyaring

Tidak bisa dipungkiri, daya tarik kota memang nyata. Konsentrasi lapangan kerja, akses pendidikan berkualitas, fasilitas kesehatan lengkap – semua ini menjadi magnet bagi siapa saja yang ingin meningkatkan taraf hidup. Urbanisasi bukan sekadar tren, melainkan pilihan rasional dalam ekonomi modern.

Namun, magnet ini ternyata memiliki daya selektif. Sebuah studi menarik dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa di kota-kota besar Asia Tenggara, kelompok berpenghasilan tinggi mengakses 3-4 kali lebih banyak fasilitas publik berkualitas dibandingkan kelompok berpenghasilan rendah. Peluang itu ada, tetapi aksesnya tidak merata. Seperti pesta mewah di balik pagar tinggi – Anda bisa mendengar suara tawanya, tapi sulit untuk ikut masuk.

Gentrifikasi: Proses yang Terasa Seperti Pengusiran Halus

Istilah 'gentrifikasi' mungkin terdengar akademis, tetapi dampaknya sangat personal. Saya pernah berbincang dengan seorang penjual soto di kawasan yang sedang 'naik kelas'. Dengan nada getir, ia bercerita: "Dulu, pelanggan saya dari berbagai kalangan. Sekarang, yang datang kebanyakan anak muda dengan laptop mahal. Mereka mau bayar lima kali lipat untuk kopi artisan, tapi enggan bayar sepuluh ribu lebih untuk soto yang sudah saya jual 15 tahun."

Proses ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan. Ini adalah pergeseran identitas ruang. Kawasan yang sebelumnya hidup dengan keragaman sosial-ekonomi, tiba-tiba menjadi homogen – didominasi oleh satu kelas tertentu. Yang mengkhawatirkan, menurut data dari beberapa kota di Indonesia, proses gentrifikasi seringkali terjadi tanpa mekanisme perlindungan yang memadai bagi warga lama. Mereka seperti daun yang tertiup angin pembangunan – terdorong ke pinggiran, jauh dari jaringan sosial dan ekonomi yang sudah dibangun puluhan tahun.

Infrastruktur: Bukan Hanya Tentang Jalan dan Jembatan

Ketika kita bicara infrastruktur inklusif, pikiran kita sering langsung tertuju pada transportasi publik. Padahal, ada aspek yang lebih mendasar: ruang hijau yang terjangkau, trotoar yang ramah untuk semua usia, taman yang tidak hanya jadi latar foto Instagram. Di Jakarta misalnya, ruang terbuka hijau publik hanya sekitar 9,8% dari total luas wilayah – jauh dari target 30% yang diamanatkan undang-undang.

Ketimpangan infrastruktur menciptakan efek domino. Warga di pinggiran harus mengeluarkan biaya dan waktu lebih besar hanya untuk mengakses layanan dasar. Seorang ibu di daerah penyangga Jakarta bercerita bagaimana ia menghabiskan 4 jam sehari di jalan hanya untuk mengantar anak sekolah dan bekerja. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk istirahat atau berkualitas dengan keluarga, terkuras di perjalanan. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan – ini adalah pengurangan kualitas hidup yang sistematis.

Investasi vs. Inklusi: Dua Sisi Mata Uang yang Sering Bertolak Belakang

Di sinilah dilema terbesar muncul. Kota butuh investasi untuk berkembang. Tapi investasi besar seringkali datang dengan agenda komersial yang mengabaikan keberlanjutan sosial. Saya punya opini yang mungkin kontroversial: terlalu banyak pembangunan kota yang memperlakukan warga sebagai konsumen, bukan sebagai pemilik.

Lihatlah bagaimana apartemen mewah tumbuh seperti jamur, sementara hunian terjangkau selalu tertunda. Menurut data Kementerian PUPR, backlog rumah di Indonesia masih mencapai 12,7 juta unit. Setiap tahun, hanya sekitar 700-800 ribu unit yang terbangun. Matematika sederhana ini menunjukkan betapa kita sedang kalah cepat dalam menyediakan ruang hidup yang layak bagi semua.

Partisipasi: Bukan Sekedar Kotak Kosong di Formulir

Kita sering mendengar jargon 'partisipasi masyarakat' dalam perencanaan kota. Tapi dalam praktiknya, partisipasi ini seringkali hanya menjadi ritual administratif. Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang seharusnya menjadi ruang dialog, kerap berubah menjadi formalitas dimana keputusan sebenarnya sudah dibuat di belakang layar.

Padahal, contoh menarik datang dari kota Medellín, Kolombia. Kota yang pernah dikenal sebagai salah satu yang paling berbahaya di dunia ini berubah drastis dengan pendekatan 'urbanisme sosial'. Mereka membangun perpustakaan dan fasilitas publik di wilayah termiskin terlebih dahulu, bukan di pusat kota. Hasilnya? Kriminalitas turun drastis dan rasa memiliki warga meningkat. Ini membuktikan bahwa ketika warga merasa dianggap, mereka akan menjadi penjaga terbaik kotanya sendiri.

Kebijakan: Bukan Hanya tentang Regulasi, Tapi tentang Perspektif

Pemerintah daerah sering terjebak dalam paradigma pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan. Padahal, kota yang sukses seharusnya diukur dari bagaimana mereka memperlakukan warganya yang paling rentan. Kebijakan inklusif tidak selalu mahal – terkadang hanya butuh perubahan perspektif.

Contoh sederhana: alih-alih menggusur pedagang kaki lima, beberapa kota di Indonesia mulai mengadopsi konsep 'penataan' dengan memberikan lokasi yang layak. Hasilnya? Kota tetap rapi, pedagang tetap bisa menghidupi keluarga, dan keberagaman ekonomi jalanan tetap terjaga. Ini adalah win-win solution yang menunjukkan bahwa inklusivitas dan keteraturan bukanlah dua hal yang bertentangan.

Masa Depan Kota: Antara Fiksi dan Harapan

Dalam imajinasi populer, kota masa depan sering digambarkan dengan teknologi canggih: mobil terbang, robot di setiap sudut, gedung-gedung super tinggi. Tapi saya ingin membayangkan kota masa depan yang berbeda: kota di mana seorang anak dari keluarga kurang mampu bisa bersepeda aman ke perpustakaan umum terbaik di kotanya. Kota di mana lansia bisa duduk di taman tanpa harus membayar segelas kopi mahal. Kota di mana identitas sebuah tempat tidak ditentukan oleh daya beli, tetapi oleh kisah-kisah manusia yang menghuninya.

Data dari World Bank menunjukkan bahwa pada 2050, hampir 70% populasi dunia akan tinggal di perkotaan. Ini artinya, pertarungan untuk ruang hidup yang adil akan semakin sengit. Tapi ini juga peluang emas untuk menata ulang cara kita membangun kota.

Pada akhirnya, pertanyaan "kota untuk siapa?" bukan hanya urusan pemerintah atau perencana kota. Ini adalah cermin yang kita hadapkan pada diri sendiri sebagai masyarakat urban. Setiap kali kita memilih untuk berbelanja di mal mewah alih-alih pasar tradisional, setiap kali kita mendukung penggusuran tanpa mempertimbangkan alternatif, setiap kali kita diam melihat tetangga kesulitan mencari tempat tinggal – kita sedang menjawab pertanyaan itu.

Kota yang inklusif tidak akan terwujud dengan sendirinya. Ia butuh kesadaran kolektif bahwa kemajuan yang meninggalkan sebagian orang di belakang, pada dasarnya adalah kemunduran yang terselubung. Mari kita mulai dari hal kecil: kenali tetangga kita, dukung usaha lokal, dan suarakan kepedulian ketika kebijakan terasa tidak adil. Karena kota yang sebenarnya hidup bukan yang memiliki gedung tertinggi, tetapi yang masih memiliki ruang untuk semua cerita manusia di dalamnya.

Lain kali Anda berjalan di kota, coba perhatikan: siapa yang tidak terlihat di ruang-ruang itu? Dan yang lebih penting: apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa kembali terlihat, terdengar, dan terasa sebagai bagian dari denyut nadi kota yang seharusnya menjadi rumah bersama?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:52
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:52