Home/Harmoni di Antara Batu Kuno: Refleksi Spiritual di Candi Prambanan yang Menggetarkan Hati
PeristiwaNasionalAgamaviral

Harmoni di Antara Batu Kuno: Refleksi Spiritual di Candi Prambanan yang Menggetarkan Hati

AuthorAhmad Alif Badawi
DateMar 11, 2026
Harmoni di Antara Batu Kuno: Refleksi Spiritual di Candi Prambanan yang Menggetarkan Hati

Bayangkan suasana itu. Di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga, ribuan manusia duduk bersila di pelataran batu yang telah menyaksikan perjalanan waktu selama lebih dari seribu tahun. Mereka tidak sedang menyaksikan pertunjukan sendratari Ramayana yang terkenal itu. Suara yang menggema bukanlah gamelan, melainkan lautan dzikir dan doa yang mengalun khidmat. Inilah pemandangan langka yang terjadi di kompleks Candi Prambanan baru-baru ini, di mana warisan budaya Hindu dari abad ke-9 menjadi saksi bisu sebuah ikhtiar spiritual umat Islam untuk mendoakan bangsa.

Peristiwa ini bukan sekadar agenda keagamaan yang masuk dalam kalender. Ia adalah sebuah statement hidup tentang bagaimana keberagaman bisa bernapas dengan damai di negeri ini. Di tempat yang secara historis adalah simbol keagungan agama Hindu, ribuan jemaah muslim justru menemukan ruang untuk bermunajat. Ada sebuah paradoks yang indah di sini—sebuah dialog diam antara masa lalu dan masa kini, antara satu keyakinan dan keyakinan lain, yang justru melahirkan harmoni.

Lebih Dari Sekadar Kumpulan Manusia: Makna di Balik Lokasi Simbolik

Pemilihan Candi Prambanan sebagai lokasi acara ini layak untuk dikupas lebih dalam. Menurut catatan sejarah, candi ini dibangun sekitar tahun 850 Masehi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Ia adalah candi Hindu terbesar di Indonesia, didedikasikan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Lalu, apa yang membuat tempat ini dipilih untuk sebuah acara zikir akbar?

Seorang pengamat budaya dari Universitas Gadjah Mada, dalam wawancara tidak resmi, memberikan perspektif menarik. "Ini adalah bentuk 'reclaiming space' yang positif," ujarnya. "Bukan dalam arti mengambil alih, tetapi dalam arti mengisi ruang publik yang memiliki nilai sejarah tinggi dengan energi spiritual kontemporer yang positif. Candi Prambanan sudah lama menjadi simbol toleransi karena letaknya yang berdampingan dengan Candi Sewu (Budha). Kini, ia menjadi panggung bagi ekspresi keagamaan lain, menyempurnakan narasi toleransi itu sendiri."

Panitia penyelenggara, seperti yang diungkapkan salah satu koordinatornya, sengaja memilih lokasi ini karena nilai universalnya. "Kami ingin mengangkat pesan bahwa doa untuk perdamaian bangsa tidak terkurung dalam satu tempat ibadah tertentu. Ia harus menyentuh ruang-ruang yang menjadi milik bersama, warisan bersama, yang mengingatkan kita akan betapa tuanya peradaban di tanah ini dan betapa kita harus menjaganya."

Prosesi Khidmat: Dari Sunyi Pagi Hingga Gemuruh Doa

Kegiatan ini tidak terjadi secara spontan. Ratusan relawan telah mempersiapkan segalanya sejak subuh. Pengaturan tempat duduk, sistem suara, logistik air minum, hingga koordinasi dengan petugas keamanan dan pengelola Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan. Sebuah sumber dari kepolisian setempat menyebutkan bahwa sekitar 350 personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan acara yang diestimasi dihadiri oleh lebih dari 5.000 orang ini.

Yang menarik untuk diamati adalah profil peserta. Mereka bukan datang dari satu kelompok atau ormas tertentu saja. Terlihat ibu-ibu majelis taklim, bapak-bapak dari pengajian kampung, remaja masjid, hingga profesional muda yang menyempatkan waktu akhir pekannya. Pakaian putih-putih yang mereka kenakan menciptakan kontras yang mencolok dan damai dengan warna abu-abu batu candi. Seorang peserta bernama Sari (42) yang datang dari Klaten bercerita, "Saya sengaja membawa anak saya yang remaja. Saya ingin dia melihat langsung, bahwa berdoa untuk negeri bisa dilakukan di mana saja, dengan cara yang damai, dan menghargai tempat bersejarah seperti ini."

Acara inti berlangsung selama beberapa jam. Dipandu oleh beberapa ulama, ribuan suara menyatu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, zikir, dan sholawat. Gemanya bergulir-gulir di antara celah-celah candi, seolah-olah mengisi ruang yang biasanya diisi oleh cerita-cerita epik Mahabharata dan Ramayana dengan cerita baru: cerita tentang harapan untuk Indonesia masa kini.

Respons dan Refleksi: Antara Apresiasi dan Kehati-hatian

Seperti halnya peristiwa publik yang menggunakan ruang ikonik, respons masyarakat pun beragam. Banyak warganet di media sosial menyebut acara ini sebagai "pemandangan yang menyentuh hati" dan "bukti nyata kerukunan". Sejumlah tokoh masyarakat juga memberikan apresiasi atas pesan persatuan yang dikedepankan.

Namun, di sisi lain, muncul juga suara kehati-hatian dari beberapa arkeolog dan pemerhati cagar budaya. Kekhawatiran utama mereka adalah dampak fisik dari kerumunan besar terhadap struktur candi yang rentan. "Candi Prambanan adalah situs yang sangat sensitif," jelas seorang staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta yang enggan disebutkan namanya. "Getaran dari kerumunan, sentuhan, bahkan perubahan kelembaban dari napas ribuan orang bisa berdampak dalam jangka panjang. Karena itu, koordinasi dan protokol yang ketat mutlak diperlukan."

Pihak pengelola TWC Prambanan menyatakan bahwa semua prosedur telah dipatuhi. Acara hanya diizinkan di area pelataran terbuka tertentu, bukan di dekat struktur candi utama yang rapuh. Peserta juga terus diingatkan untuk tidak menyentuh atau bersandar pada relief dan dinding candi.

Opini: Ketika Spiritualitas Menjadi Jembatan, Bukan Tembok

Di sini, saya ingin menyampaikan sebuah opini. Peristiwa zikir di Prambanan ini, bagi saya, adalah sebuah metafora yang powerful untuk Indonesia. Kita sering terjebak dalam dikotomi: tradisi vs modern, satu kelompok vs kelompok lain, agama vs budaya. Acara ini meruntuhkan tembok-tembok imajiner tersebut.

Data dari Setara Institute menunjukkan bahwa sepanjang 2023, setidaknya ada 200 peristiwa intoleransi yang tercatat di Indonesia. Dalam konteks itu, inisiatif seperti zikir di Prambanan adalah penawar racun. Ia menunjukkan bahwa ekspresi keagamaan yang intens tidak harus eksklusif atau menimbulkan kecemasan. Justru, ia bisa menjadi momentum untuk menunjukkan penghormatan—baik kepada Tuhan, maupun kepada warisan sejarah dan sesama anak bangsa yang mungkin berbeda keyakinan.

Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari pendekatan kolaboratif. Dialog antara panitia, pemerintah daerah, pengelola situs, dan aparat keamanan berjalan baik. Ini menjadi preseden penting bahwa penggunaan ruang publik yang sensitif untuk kegiatan massal bisa dilakukan dengan prinsip win-win solution, asalkan diawali dengan komunikasi yang tulus dan saling menghargai.

Penutup: Lantunan Doa yang Akan Terus Bergema

Ketika malam mulai turun dan para jemaah berangsur-angsur pulang, yang tertinggal di Prambanan bukanlah sampah atau kerusakan. Menurut laporan pengelola, kondisi situs tetap terjaga. Yang tertinggal adalah kesan mendalam, sebuah memori kolektif tentang sebuah sore di mana doa-doa untuk Indonesia dinaikkan dari tempat yang penuh makna.

Peristiwa ini mengajarkan kita satu hal: perdamaian dan persatuan bukanlah konsep abstrak yang hanya ada di buku teks. Ia bisa diwujudkan dalam tindakan nyata, dalam keberanian untuk berkumpul di ruang yang 'berbeda', dan dalam kerendahan hati untuk mengutamakan pesan universal cinta dan harapan. Mungkin, itulah inti dari semua agama dan kepercayaan.

Jadi, mari kita renungkan. Sebagai bangsa yang hidup di atas ribuan situs sejarah dan dalam keberagaman yang luar biasa, sudahkah kita menjadikan perbedaan sebagai panggung untuk harmoni, seperti yang dicontohkan sore itu di Prambanan? Atau jangan-jangan, kita justru sibuk membangun tembok-tembok di tempat yang seharusnya menjadi jembatan? Acara ini telah memberikan jawabannya. Sekarang, tinggal kita yang harus memutuskan, pelajaran apa yang akan kita bawa pulang dari antara batu-batu kuno yang bisu itu.