Home/Duka di Balik Seragam: Kisah Perjalanan Terakhir Dua Marinir Korban Longsor Cisarua
Nasional

Duka di Balik Seragam: Kisah Perjalanan Terakhir Dua Marinir Korban Longsor Cisarua

Authoradit
DateMar 06, 2026
Duka di Balik Seragam: Kisah Perjalanan Terakhir Dua Marinir Korban Longsor Cisarua

Bandara Raden Inten II di Lampung, Senin siang itu, terasa berbeda. Bukan hanya deru mesin pesawat yang biasa terdengar, melainkan ada kesunyian yang terasa berat di antara hiruk-pikuk aktivitas bandara. Di Terminal VIP, sebuah upacara militer sedang dipersiapkan dengan khidmat. Ini bukan penyambutan tamu negara atau pejabat tinggi, melainkan prosesi untuk menyambut dua pahlawan yang pulang untuk terakhir kalinya. Dua peti jenazah yang dibungkus bendera Merah Putih menandai akhir perjalanan dua prajurit Marinir, Serda Mar Sidik Harianto dan Praka Mar Muhammad Kori, yang gugur dalam tragedi longsor di Cisarua.

Momen itu mengingatkan kita pada sebuah realitas yang sering terlupakan: di balik seragam hijau loreng dan topi baret ungu yang gagah, ada manusia dengan keluarga, harapan, dan cerita hidup yang terpaksa berakhir di medan latihan. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan korban, melainkan putra terbaik bangsa yang sedang mempersiapkan diri untuk tugas paling mulia: menjaga kedaulatan negara di perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Detik-Detik Penghormatan Terakhir di Tanah Kelahiran

Pesawat CN212-200 MPA dengan nomor registrasi U-6216 mendarat tepat pukul 13.10 WIB, membawa muatan yang paling berharga sekaligus paling menyedihkan. Lima menit kemudian, tepat pukul 13.15 WIB, upacara penyambutan dimulai dengan penuh hormat. Barisan prajurit berdiri tegak, memberikan penghormatan terakhir kepada rekan seperjuangan mereka. Prosesi ini berlangsung singkat namun penuh makna, selesai sekitar pukul 13.40 WIB, sebelum kedua jenazah diberangkatkan ke rumah duka masing-masing.

Serda Mar Sidik Harianto akan menjalani peristirahatan terakhirnya di Kotabumi, Lampung Utara. Ia akan disemayamkan di rumah keluarganya di Jalan Garuda sebelum dimakamkan secara militer di TPU Penitis. Sementara Praka Mar Muhammad Kori akan dibawa ke kampung halamannya di Desa Kibang, Lampung Timur. Dua perjalanan terakhir menuju rumah yang berbeda, tetapi disatukan oleh pengabdian yang sama kepada negara.

Lebih Dari Sekedar Tragedi Alam: Refleksi tentang Latihan Militer

Dari sudut pandang yang lebih luas, insiden di Cisarua ini membuka diskusi penting tentang manajemen risiko dalam latihan militer. Data dari Pusat Studi Bencana Universitas Indonesia menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada 15 insiden terkait latihan militer yang dipengaruhi faktor cuaca ekstrem di Indonesia. Meski TNI telah memiliki protokol keselamatan yang ketat, tantangan alam di wilayah seperti Cisarua—dengan topografi kompleks dan kerentanan terhadap longsor—memerlukan pendekatan yang semakin adaptif terhadap perubahan iklim.

Yang menarik untuk dicermati adalah konteks latihan yang sedang dijalani para prajurit ini. Menurut penjelasan Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali, mereka sedang mempersiapkan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini—sebuah tugas yang membutuhkan ketangguhan fisik dan mental luar biasa. Ironisnya, justru dalam persiapan untuk melindungi negara dari ancaman eksternal, mereka harus berhadapan dengan ancaman dari alam sendiri.

Operasi Pencarian yang Penuh Tantangan

Hingga laporan ini dibuat, proses pencarian masih terus berlangsung untuk 19 prajurit lainnya yang masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI AL, Basarnas, dan instansi terkait bekerja tanpa henti di lokasi yang sulit. Penggunaan alat berat dan drone menunjukkan pendekatan modern dalam operasi pencarian, tetapi medan yang terjal dan kondisi tanah yang tidak stabil membuat evakuasi menjadi sangat berisiko.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii melaporkan bahwa hingga 26 Januari 2026, telah berhasil dievakuasi 29 kantong jenazah dari lokasi kejadian. Angka ini mencerminkan skala tragedi yang sebenarnya dan kompleksitas identifikasi korban, mengingat tidak semua jenazah ditemukan dalam kondisi utuh. Semua jenazah yang berhasil dievakuasi kemudian diserahkan kepada Tim DVI Polda Jawa Barat untuk proses identifikasi lebih lanjut—sebuah proses yang membutuhkan ketelitian dan empati tinggi.

Duka yang Menyentuh Seluruh Lapisan

General Manager KC Bandara Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, yang mengonfirmasi pelaksanaan upacara tersebut, menyatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari agenda TNI Angkatan Udara. "Kegiatan upacara penyambutan jenazah yang berlangsung di Terminal VIP Bandara Raden Inten," ujarnya kepada media. Pernyataannya sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana institusi sipil dan militer bersinergi dalam momen-momen seperti ini.

Yang sering luput dari pemberitaan adalah dampak psikologis dari tragedi semacam ini terhadap rekan seunit, keluarga, dan bahkan masyarakat sekitar lokasi latihan. Duka tidak hanya dirasakan oleh keluarga langsung, tetapi juga oleh kesatuan tempat mereka bertugas. Marinir, sebagai korps elit TNI AL, memiliki ikatan yang sangat kuat antar anggotanya—sebuah ikatan yang terbentuk melalui latihan berat dan kesiapan menghadapi bahaya bersama.

Penutup: Lebih Dari Sekedar Berita, Ini adalah Cerita Kemanusiaan

Ketika kita membaca berita tentang upacara militer di bandara atau prosesi pemakaman prajurit, mudah terjebak pada detail prosedural dan angka-angka. Namun, di balik setiap liputan seperti ini, ada cerita manusia yang lebih dalam. Setiap prajurit yang gugur meninggalkan keluarga yang harus meneruskan hidup tanpa kehadiran mereka, rencana masa depan yang terputus, dan impian yang tidak pernah tercapai.

Mari sejenak kita renungkan: pengabdian seperti apa yang telah diberikan oleh para prajurit kita? Mereka bersedia menempatkan diri dalam situasi berbahaya—bahkan dalam latihan sekalipun—untuk memastikan mereka siap ketika negara memanggil. Upacara di Bandara Raden Inten II bukan sekadar ritual protokoler; itu adalah bentuk penghargaan tertinggi bangsa kepada anak-anak terbaiknya. Sebagai masyarakat, tugas kita adalah mengingat bukan hanya bagaimana mereka pergi, tetapi untuk apa mereka hidup dan berjuang. Mungkin, dengan mengenang pengorbanan mereka, kita bisa lebih menghargai arti perdamaian dan keamanan yang selama ini kita nikmati—sebuah hadiah yang dibayar mahal oleh para pahlawan seperti Sidik dan Muhammad.

Duka di Balik Seragam: Kisah Perjalanan Terakhir Dua Marinir Korban Longsor Cisarua