Home/Di Balik Genangan: Mengapa Denpasar Rentan Banjir dan Apa yang Bisa Kita Pelajari
cuacaNasional

Di Balik Genangan: Mengapa Denpasar Rentan Banjir dan Apa yang Bisa Kita Pelajari

AuthorAhmad Alif Badawi
DateMar 08, 2026
Di Balik Genangan: Mengapa Denpasar Rentan Banjir dan Apa yang Bisa Kita Pelajari

Bayangkan Anda sedang menikmati secangkir kopi di teras rumah, menatap hujan yang turun membasahi Kota Denpasar. Awalnya, rintik-rintik itu terasa menyejukkan, menghapus debu dan panas siang. Namun, dalam hitungan jam, rintikan berubah menjadi curahan yang tak henti-henti. Yang terjadi selanjutnya bukan lagi pemandangan yang menenangkan, melainkan sebuah adegan yang akrab namun selalu mengkhawatirkan: jalan-jalan berubah menjadi sungai, halaman rumah menjadi kolam, dan kehidupan sehari-hari tiba-tiba terhenti. Inilah realitas yang kembali dialami warga Denpasar baru-baru ini, sebuah pengulangan cerita yang seharusnya bisa kita antisipasi dengan lebih baik.

Peristiwa banjir yang melanda beberapa wilayah di ibu kota Bali ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah sebuah cermin, memantulkan interaksi kompleks antara alam yang sedang berubah dan tata kelola ruang kita yang seringkali tertinggal. Banyak yang langsung menyalahkan intensitas hujan, dan memang BMKG mencatat adanya aktivitas awan hujan yang kuat. Tapi, benarkah hanya itu penyebabnya? Atau ada faktor-faktor lain yang selama ini kita abaikan, yang membuat genangan air itu terasa semakin dalam dan dampaknya semakin luas?

Lebih Dari Sekadar Curah Hujan Tinggi

Menyederhanakan banjir Denpasar hanya sebagai akibat hujan lebat adalah kekeliruan yang berbahaya. Data historis dari Dinas Pekerjaan Umum setempat menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: luas area genangan cenderung meningkat dalam dekade terakhir, meskipun curah hujan tahunan tidak selalu menunjukkan peningkatan ekstrem yang signifikan. Ini mengarah pada satu analisis: kapasitas penyerapan dan pengaliran air di kota ini sedang menurun drastis.

Apa yang terjadi di bawah permukaan? Konversi lahan hijau dan resapan menjadi area terbangun yang masif adalah salah satu biang kerok utama. Setiap kali sepetak sawah atau ruang terbuka hijau berubah menjadi perumahan atau pusat perbelanjaan, kota kehilangan 'spons' alaminya. Air hujan yang sebelumnya diserap tanah, kini langsung meluncur ke permukaan, membanjiri saluran drainase yang sudah kewalahan. Saluran-saluran ini sendiri seringkali tak terawat, tersumbat sampah, dan desainnya tidak lagi memadai untuk menampung volume air dari daerah tangkapan hujan yang kini sebagian besar telah disemen.

Dampak yang Merambat: Dari Jalanan Sampai Perekonomian

Dampak banjir selalu digambarkan sebagai genangan air dan rumah yang kebanjiran. Namun, efek riaknya jauh lebih dalam. Coba kita lihat dari sudut pandang seorang pengusaha kecil di daerah yang terdampak. Hari pertama banjir, tokonya tutup. Hari kedua, stok barang mungkin rusak. Hari ketiga, pelanggan mulai mencari tempat lain yang lebih aman. Kerugiannya tidak hanya material, tetapi juga kepercayaan dan momentum usaha.

Di sisi lain, respon pemerintah daerah yang mengerahkan petugas untuk penanganan darurat patut diapresiasi. Tapi, responsif dalam keadaan darurat harus dibarengi dengan proaktivitas dalam perencanaan jangka panjang. Pembersihan saluran air dan bantuan korban adalah tindakan kuratif. Pertanyaannya, sudah sejauh mana upaya preventif dilakukan? Apakah regulasi tentang koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien daerah hijau ditegakkan dengan ketat? Ataukah izin pembangunan masih sering mengalahkan pertimbangan lingkungan?

Perubahan Iklim: Bukan Ancaman Masa Depan, Tapi Kenyataan Hari Ini

Para ahli klimatologi telah lama memperingatkan bahwa salah satu manifestasi perubahan iklim di wilayah tropis seperti Indonesia adalah meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat akan menjadi lebih biasa. Ini bukan lagi prediksi untuk 50 tahun mendatang; ini adalah pola yang mulai terlihat sekarang. Denpasar, dengan topografi yang relatif datar dan tekanan pembangunan yang tinggi, menjadi sangat rentan terhadap pola baru ini.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Adaptasi adalah kuncinya. Konsep sponge city atau kota spons, yang banyak diterapkan di beberapa negara, bisa menjadi inspirasi. Ide dasarnya sederhana: buat kota mampu menyerap air seperti spons, alih-alih menolaknya. Ini bisa diwujudkan melalui pembuatan biopori masal, taman-taman resapan, atap hijau, penggunaan material perkerasan yang tembus air di trotoar dan parkiran, serta revitalisasi sungai dan kanal bukan sebagai saluran beton, tetapi sebagai ekosistem yang hidup dan mampu menahan air.

Opini: Sebuah Panggilan untuk Kolaborasi, Bukan Saling Menyalahkan

Di sini, saya ingin menyampaikan sebuah opini yang mungkin kontroversial: menyalahkan pemerintah sepenuhnya adalah jalan pintas yang tidak menyelesaikan masalah. Banjir di Denpasar adalah masalah kolektif. Setiap warga yang membuang sampah sembarangan, setiap developer yang memaksimalkan lahan terbangun tanpa menyisakan resapan, dan setiap kebijakan yang mengabaikan analisis dampak lingkungan, semua berkontribusi pada satu titik: genangan air di musim hujan.

Solusinya harus datang dari kolaborasi. Komunitas warga bisa memulai gerakan penghijauan dan pemeliharaan saluran di tingkat RT/RW. Akademisi dan praktisi bisa menawarkan desain infrastruktur hijau yang terjangkau. Dunia usaha dapat mengalokasikan CSR untuk proyek-proyek konservasi air. Dan pemerintah, tentu saja, memegang peran terbesar dalam menetapkan regulasi yang tegas, mengalokasikan anggaran yang memadai, dan memastikan penegakan hukum yang konsisten.

Menutup dengan Refleksi: Denpasar Bisa Menjadi Contoh

Banjir yang baru saja terjadi seharusnya menjadi alarm terakhir. Kita tidak bisa lagi berpuas diri dengan penanganan reaktif saat air sudah masuk ke ruang tamu. Momentum ini harus diubah menjadi titik balik untuk membangun Denpasar yang lebih tangguh. Kota ini memiliki modal sosial dan budaya yang kuat. Semangat gotong royong yang menjadi ciri khas Bali bisa diarahkan untuk membangun ketangguhan iklim.

Bayangkan lima atau sepuluh tahun ke depan: Denpasar tidak hanya dikenal sebagai pintu gerbang pariwisata Bali, tetapi juga sebagai kota percontohan dalam mengelola air dan beradaptasi dengan iklim yang berubah. Itu bukanlah mimpi yang mustahil. Itu adalah pilihan. Setiap kali hujan akan turun lagi, akankah kita hanya pasrah menunggu genangan, atau kita sudah melakukan sesuatu di hari-hari cerah untuk mencegahnya? Jawabannya dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan aksi, dan dipertahankan dengan komitmen kolektif kita semua.

Di Balik Genangan: Mengapa Denpasar Rentan Banjir dan Apa yang Bisa Kita Pelajari