Internasional

Ali Akbar, Suara Pagi Paris yang Tak Tergantikan: Dari Trotoar Saint-Germain ke Istana Élysée

Kisah inspiratif Ali Akbar, penjual koran terakhir Paris yang mendapat penghargaan tertinggi Prancis, tentang ketekunan dan arti kebersamaan.

Penulis:adit
2 Februari 2026
Ali Akbar, Suara Pagi Paris yang Tak Tergantikan: Dari Trotoar Saint-Germain ke Istana Élysée

Bayangkan sebuah pagi di Paris. Aroma kopi baru saja menggantung di udara, bunyi klakson mobil masih jarang terdengar, dan di sudut Saint-Germain-des-Prés, sebuah suara akrab mulai menggema: "Le Monde! Le Figaro! Libération!" Selama lebih dari setengah abad, suara itu bukan sekadar penanda pagi, melainkan jantung dari sebuah ritual perkotaan yang perlahan menghilang. Di era di mana berita datang melalui notifikasi ponsel, ada seseorang yang tetap setia membawa kertas dan tinta berjalan kaki sejauh 10 kilometer setiap hari.

Tokoh itu adalah Ali Akbar, pria berusia 73 tahun asal Pakistan yang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa langkahnya di trotoar Paris akan membawanya ke podium penghargaan di Istana Élysée. Pada 28 Januari 2026, Presiden Emmanuel Macron menganugerahinya gelar Chevalier (Ksatria) dalam Ordre National du Mérite, salah satu penghargaan sipil tertinggi di Prancis. Yang menarik, ini bukan sekadar kisah tentang seorang penjual koran—ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah profesi sederhana bisa menjadi jembatan budaya dan penjaga memori kolektif sebuah kota.

Lebih Dari Sekadar Transaksi: Seni Membangun Komunitas di Trotoar

Jika Anda berpikir menjual koran hanyalah soal menukar uang dengan kertas, maka Anda belum mengenal cara kerja Ali. Baginya, kios koran kelilingnya—yang sebenarnya hanya sebuah gerobak sederhana—adalah ruang sosial mini. Setiap pagi, dia tidak hanya menawarkan berita terbaru, tetapi juga senyuman, candaan tentang headline politik, pertanyaan tentang keluarga pelanggan, dan kadang-kadang, rekomendasi restoran terbaik di arrondissement keenam.

"Ini soal cinta," ujarnya suatu kali, seperti dikutip dalam wawancara dengan Reuters. "Kalau hanya demi uang, saya bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah. Tapi di sini, saya bukan sekadar penjual. Saya adalah bagian dari pagi mereka, bagian dari ritual mereka minum kopi sebelum bekerja. Itu yang tidak bisa digantikan aplikasi mana pun."

Data menarik dari Observatoire de la Presse menunjukkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, jumlah penjual koran keliling di Prancis telah menyusut drastis—dari sekitar 3.000 orang di tahun 2000 menjadi kurang dari 50 orang di tahun 2025. Ali diyakini sebagai yang terakhir masih beroperasi dengan rute tetap di Paris pusat. Penyusutan ini bukan hanya angka statistik, tetapi mencerminkan perubahan fundamental dalam cara kita mengonsumsi informasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Pengakuan dari Istana: Ketika Presiden Menyebutnya "Orang Prancis Paling Prancis"

Upacara di Élysée pada hari Rabu itu penuh dengan simbolisme. Di ruangan yang biasanya dipenuhi diplomat dan politisi, berdiri seorang pria dengan tangan yang kasar karena memegang koran dan terkena cuaca Paris yang tak menentu. Dalam pidatonya, Presiden Macron menggunakan frasa yang sangat berarti: "Vous êtes le Français le plus français des Français"—"Anda adalah orang Prancis yang paling Prancis di antara orang Prancis."

Pernyataan ini mengandung kedalaman filosofis yang menarik. Di sebuah negara yang kadang mengalami ketegangan tentang identitas dan integrasi, Ali—seorang imigran Pakistan—justru dianggap mewakili nilai-nilai Prancis yang paling otentik: ketekunan, kecintaan pada percakapan intelektual (melalui pers), dan komitmen pada kehidupan komunitas. Dia menjadi bukti hidup bahwa menjadi "Prancis" bukanlah soal tempat lahir, melainkan tentang kontribusi pada kehidupan bersama.

Ordre National du Mérite sendiri didirikan pada 1963 oleh Charles de Gaulle untuk mengakui jasa sipil dan militer. Menerima penghargaan ini berarti nama Ali akan tercatat dalam sejarah resmi Prancis, sejajar dengan ilmuwan, seniman, dan pemimpin masyarakat lainnya. Sebuah pencapaian luar biasa untuk seseorang yang memulai hari-harinya pukul 4 pagi untuk menyortir koran.

Antara Tradisi dan Modernitas: Refleksi tentang Apa yang Hilang

Ada sesuatu yang paradoks dalam kisah Ali Akbar. Di satu sisi, penghargaannya adalah pengakuan atas nilai tradisi dan kontinuitas. Di sisi lain, profesi yang dia jalani sedang menuju kepunahan. Menurut survei Institut Français d'Opinion Publique (IFOP), hanya 12% warga Prancis di bawah 35 tahun yang masih membeli koran fisik secara teratur. Mayoritas mengandalkan platform digital untuk mendapatkan informasi.

Tapi mungkin justru di situlah letak keajaiban kisah ini. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan impersonal, kehadiran manusia seperti Ali menjadi semakin berharga. Dia mengingatkan kita bahwa berita bukan hanya tentang informasi, tetapi juga tentang konteks—tentang percakapan yang terjadi setelah seseorang membaca headline, tentang ekspresi wajah penjual ketika menyerahkan koran yang memuat berita sedih atau menggembirakan.

Seorang pelanggan tetap Ali, Madame Claudine (72), berbagi cerita: "Selama pandemi, ketika kami semua terisolasi, Ali adalah salah satu dari sedikit orang yang masih saya lihat secara teratur. Dia tidak hanya membawa koran, tetapi juga menanyakan kabar saya. Di era di mana semua serba virtual, kehadiran fisik seseorang yang peduli memiliki nilai yang tak terukur."

Warisan yang Tidak Tertulis di Atas Kertas

Ketika ditanya apakah dia punya rencana pensiun, Ali hanya tersenyum. "Selama masih ada yang mau membeli koran dari tangan saya, dan selama kaki ini masih kuat berjalan, saya akan terus melakukannya," katanya. Namun, dia menyadari bahwa suatu hari nanti, profesi ini mungkin benar-benar hilang. Yang dia harapkan bukanlah agar orang-orang kembali membeli koran fisik dalam jumlah besar, tetapi agar semangat di balik pekerjaannya tetap hidup: semangat untuk terhubung secara manusiawi, untuk mengenal tetangga, untuk menjadikan transaksi komersial sebagai awal percakapan yang bermakna.

Kisah Ali Akbar mengajarkan kita pelajaran penting tentang ketahanan dan makna kontribusi. Dalam masyarakat yang sering mengukur kesuksesan dengan gaji besar atau jabatan tinggi, Ali menunjukkan bahwa dampak terbesar sering kali datang dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan konsistensi dan hati. Penghargaan dari Élysée mungkin akan ditempelkan di dinding rumahnya, tetapi warisan sejatinya terukir di memori ribuan orang yang pagi-paginya pernah dihangatkan oleh senyuman dan sapaan akrabnya.

Pernahkah Anda berpikir tentang siapa "Ali Akbar" di lingkungan Anda? Mungkin dia bukan penjual koran, tetapi tukang pos yang selalu menyapa, penjaga toko yang mengingat nama pelanggan, atau tetangga yang rutin menanyakan kabar. Di tengah percepatan kehidupan modern, mari kita luangkan waktu untuk menghargai orang-orang yang menjadi "jembatan manusiawi" dalam komunitas kita. Karena terkadang, penjaga tradisi kecil seperti merekalah yang sebenarnya menjaga jiwa sebuah tempat dari kepunahan. Bagaimana pendapat Anda—apakah masih ada ruang untuk interaksi manusia sederhana seperti ini di dunia yang semakin digital?

Dipublikasikan: 2 Februari 2026, 05:11
Diperbarui: 3 Maret 2026, 08:00